Ringkasan Intima’ Jama’i

Esensi intima’ Jama’i harus mencakup dimensi (kedalaman) yang melampaui batas-batas formalitas dan bentuk-bentuk lahiriyyah semata.

1. Ab’adul intima (Dimensi Intima’ jama’i)
a. Bu’dun aqidi (dimensi aqidah). Akidah seorang ikhwah harus lurus dan benar-benar sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an dan Sunnah, sehingga akan melenyapkan ketergantungan pada factor figuritas terhadap orang tertentu. Intima’ terhadap jama’ah berarti juga pengerahan seluruh kekuatan diri untuk dakwah, menundukkan kepentingan individual untuk kepentingan Islam, bukan sebaliknya.
b. Bu’dun Fikri (dimensi pemikiran). Pemikiran ikhwah harus terikat dengan fikrah Islam secara total dan prinsipil yang tercermin dalam segia akhlak, pergaulan, pandangan dan pemikiran.
c. Bu’dun tanzhimi (dimensi structural). Dimensi ini mengaharuskan seorang ikhwah keluar dari jerat ego dan individualisme kemudian melebur falam kepentingan jama’ah. Intima’nya tidak temporal, terus intima terhadap apapun kondisi jama’ah. Dimensi ini akan mencerminkan sifat  As-Sam’u wat Tha’ah dan hunul indibath(disiplin yang baik)

2. Muqtadhayatul Intima’(Tuntutan-tuntutan Intima’)
A. Wala Aqidi, Loyal terhadap akidah, mewujudkannya melalui:
1. Al Isti’la, terlepas dari ikatan-ikatan duniawi sebagaimana tersebut dalam Surat At-taubah:24
2. At Tajarrud, (totalitas)
Esensi ruang lingkup tajarrud tercakup dalam uraian berikut:
– Tajarrud fikri atau mulazamatul fikrah. Ikatan pemikiran islam harus melekat total dalam diri ikhwah. Ikhwah adalah penyangga fikrah islamiyyah yang bertanggungjawab menyebarkan dan mewariskan kepada generasi umat.
– Tajarrud ruhi, totalitas menjaga kebersihan hati dari segala keinginan yang kotor dan ambisi yang menyimpang. (ikhlas)
– Al-Insyighal bina tathlubuhud da’wah. Menyibukkan diri dengan segenap tuntutan dakwah
– Wadh’u nafsihi alatan fa’alah lid da’wah. Berupaya memfungsikan diri sebagai bagian yang bermanfaat bagi da’wah.
– Wadh’u nafsihi, usariyah am fardiyyah fi mashlahatid da’wah. Meletakkan diri, baik keluarga atau pribadi untuk kepentingan dakwah.
– Syu’ur bil ma’uliyah ‘alad da’wah. Menumbuhkan rasa tanggungjawab terhadap da’wah. Tidak ada yang mengatakan bahwa satu bidang tertentu bukan urusannya.
– Ishlahu nafsihi wa da’watu ghairihi. Memperbaiki diri dan menyeru orang lain.

B. Tha’atullah wa rasulihi
Taat dalam islam dibangun diatas ilmu dan bashirah, bukan taat buta. Tingkat ketaatan seseorang sesuai dengan tingkat pemahaman dan wawasan. Taat pada Allah dan rasul dapat tercermin dalam amal jama’I, yaitu dengan menumbuhkan sikap husnul mas’uliyah wa  jundiyah. Rincian sikap ini adalah sebagai berikut:
– asy Syu’ur bi annal ‘amala fii ayyi maufiqin ‘ibadah wa qurabah. Merasakan bahwa bagaimanapun pekerjaan dalam satu posisi bernilai ibadah dan pendekatan diri kepada Allah. Dalam posisi apapun, tanggungjawab yang diberikan harus dirasakan sebagai ibadah.
– Dawamul isti’dad. Selalu siap siaga. Rumah amilin adalah ibarat barak-barak da’wah yang selalu siap kapanpun diseru
– Taqdirul mas’ul ramzan lil wahdati wal quwwah. Menghormati mas’ul sebagai symbol persatuan dan kekuatan. Memelihara sikap hormat terhadap mas’ul dan semua rekan dakwah
– I’tibar mauqi’ihitsughratan bin tsugharil Islam. Menganggap posisinya adalah salah satu sari perbatasan Islam secara keseluruhan yang harus dipertahankan.

C. Ta’awun
– Takaful.  Saling menanggung beban kolektif antara qiyadah dan junud. Tak ada potensi yang dianggap kecil dan disepelekan
– tarahum. Setiap ikhwah harus mengetahui dan menyadari tugas dan kewajiban ikhwah yang lain
– talahum, sedarah daging

D. Tanashuh
Agama itu tegak dengan nasehat. Yang paling butuh nasehat adalah yang berada dalam posisi mas’ulin. Untuk proses tanashuh membutuhkan:
1. Al Ikhlash mutabadil. Keikhlasan dari kedua belah pihak.
2. Sirriyah. Nasihat hendaknya disampaikan tidak vulgar didepan orang lain. “Man wa’azha akhahu sirriyah faqad nahahahu wa zanahu wa man wa’azha ‘alaniyah faqad fadhahau wa syanahu”

E. Tadabul hubbi Fillah
1. Itsar. Saling menjalin rasa cinta karena Allah.
2. I’tibarul akh aula min nafsihi. Menganggap ikhwah lebih tinggi kepentingannya dari dirinya.
3. Salamatus shard. Lapang dada

Advertisements

Intima’ Jama’i

“Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap mtmusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia udalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. “

(Q.S Al Hajj 78)

~~~*~~~

Intima’ Jama’i

(Komitmen Bersama, Komitmen Keterikatan dengan Jama’ah)

     Mewujudkan intima jama’i tidak dengan cara permohonan untuk dicatat sebagai anggota, bukan juga terwujud lewat keluar masuk pos-pos jama’ah dan menghadiri berbagai pertemuan saja. Esensi intima jama’i barus mencakup dimensi (kedalaman) yang melanipaui batas-batas formalitas dan bentuk-bentuk lahiriyah. Sehingga komitmen terhadap jama’ah akan semakin memantapkan kedalaman iman, kekuatan intima kepada Islam dan intima struktural (tanzhimi).

I. Ab’adul Intima (dimensi intima jama’i)

      Dimensi pertama dan paling utama adalah dimensi akidah (bu’dun aqidi). Secara akidah seorang ikhwah harus intima terhadap perjalanan dan risalah Islam yang diembannya (intima, mashrii wa risali). Akidahnya harus lurus dan benar-benar sesuai dengan tuntutan Al-Qurar dan Sunah. Keterikatan ini akan melenyapkan ketergantungan pada faktor figuritas terhadaf orang tertentu yang menyebabkan aktivitas dakwah hanya termotivasi oleh faktor akidah, olef intimanya dengan Islam dan oleh ketundukan pada perintah Allah. (Q.S. Al-Fath: 10). Intima kepada jama’ah berarti juga pengerahan seluruh kekuatan diri untuk dakwah, menundukkar kepentingan individual untuk kepenlingan islam, bukan sebaliknya. (Sesungguhnya nilai amal perbuatan itu tergantung dari niat masing-masing).
     Bu’dun fikri (dimensi pemikiran). Pemikiran ikhwah harus terikat dengan fikrah Islam secar; total dan prinsipil (islami mabda wa ushuli). aktivis dakvvah akan menjadi orang yang lain dari yang lain. Dari segi akhlak, pergaulan, pandar.gan dan pemikiran. Mereka harus hidup dalan kerangka nilai Islam total. Menyesuaikain diri dengan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
     Bu ‘dun tanzhimi (dimensi struktural). Dua hal sebelum ini, mungkin saja dimiliki oleh seorang yang tidak intima kepada jamaah. Sering kita mendapati seorang yang idealis, kuat Islamnya tetapi tidak memiliki bu’dun tanzhimi. Dimensi ini mengharuskan seorang ikhwah keluar dari jerat sikap ego dan individualisme, kemudian melebur dalam kepentingan jama’ah. Intimanya tidak tempora!, terus intima derngan apapun korndisi jamai. Seorang raja dari ka’oilah Ghassa mencoba merayu Ka’ab bin Malik ra. Ketika diboikot oleh Rasulullah saw. dan par sahabatnya. Tapi surat rayuan itu justru diremas-remas dan dibakar.
kemudian, dimensi struktural ini akan mencerminkan sifat As-Sam ‘u wal tha ‘ah, timbangannya adalah ketika menerima tugas yang yukhalif mashali fard (berlawanan dengan kepentingan pribadi). Inilah yang disebut husnul indhibath (disiplin yang baik). Taat dalam masalah yang memang sesuai selera dan kehendak itu biasa. Tetaf yang sulit bagaimana mengukuhkan taat dalam kondisi yang berlawanan dengan pendapat dan pandangan pribadi.
     Wujud lain dalam husnul indhihalh adalah bahwa illizam tidak hanya dengan perintah, tapi hanya dengan isyarat sekalipun sudah paham. Lughalu dzaki wal hakim al-isyarah (Bahasa orang pandai cukup derngar, isyarat). Innal labiba hil isyorali yafhamu (Sesungguhnya orang yang pandai itu paham dengan isyarat).

II. Muqtadhayatul intima'(Tuntutan-tuntutan Intima’)

1. Wula aqidi, loyal terhadap akidah. Mewujudkannya melalui:

Al-isli ‘la, terlepas dari ikatan-ikatan duniawi sebagaimana tersebut dalam surat At-Taubah:. 24

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari)berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendtlangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. “

Sebagian ulama tafsir menjabarkan arti kata bukan hanya bapak dalam hubungan keakraban. tetapi termasuk dalam arti ketua, bos, atasan dan lain sebagainya. Kata juga bukan terbatas anak dalam keluarga, tetapi juga bawahan, anak buah dan sebagainya. Imam Syahid, pada suatu hari raya meninggalkan anaknya, Saiful Islam yang sedang menderita sakit demam untuk pergi menunaikan kevvajiban dakwah. Istrinya sudah meminta beliau untuk menunda kepergiannya. Imam Syahid berlalu sambil melantunkan firman Allah surat At-Taubah ayat 24.

Tajarrud (totalitas). Tajarrud bukan berarti tafarrugh (kosong dan meninggalkan semua aktivitas, kecuali dakwah saja. Esensi ruang lingkup tajarrud tercakup dalam uraian berikut:

1. Tajaruud fikri atau mulazamatul fikrah. Ikatan pemikiran nilai Islam harus melekat total dalam diri ikhwah. Salah satu penyebab kehancuran umat adalah karena mereka justru mengambil solusi liasil infiltrasi atau barang impor dari sumber non-Islam, imitasi tidak orisinal, bukan asli. Karena palsu itu tidak tahan lama, seperti ginjal atau jantung yang dicangkokkan pada tubuh manusia. Meski tubuh menerima tapi paling hanya dalam jangka waktu yang pendek. Itupun dengan pcrasaan menderita atau penuh siksaan. Untuk kemudian lemah dan mati. Ikhwah adalah penyangga fikrah islamiyah yang bertanggung jawab menyebarkan dan mewariskan kepada generasi umat.

2. Tajarrud ruhi atau totalitas menjaga kebersihan hati dari segala keinginan yang kotor dan ambisi yang menyimpang. Ikhwah harus ikhlas dalam mengemban dan memperjuangkan fikrah Islam.

3. Al-insyighal bima tathlubuhud da’wah. Menyibukkan diri dengan segenap tuntutan dakwah. Dakwah menjadi obsesinya di setiap aktivitas.

4. Wadh ‘u nafsihi alalan fa ‘alah lid da ‘wah. Berupaya memfungsikan diri sebagai bagian yang bermanfaat bagi dakwah. Ikhwah harus berupaya menjadi anggota tang tidak tumpul, tetapi tajam, sehingga kebiasaannya dapat difungsikan untuk kepentingan dakwah. Menerima wazhifah, harus optimal dan tidak boleh menyepelekan.

5. Wadh’u nafsihi, usariyah am fardiyah fi mashlahatid dak’wah. Meletakkan diri, bail keluarga atau pribadi untuk kepentingan dakwah. Bekorban dengan segala sesuatu bail yang murah atau yang mahal. Tadhhiyah yang paling berat untuk kita sementara in adalah mengorbankan waktu istirahat.

6. Syu’ur bil ma’uliyah ‘alad da’wah. Menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadaj dakwah. Masing-masing ikhwah harus merasakan bahwa dirinya adalah mas’ul Sehingga tidak ada yang mengatakan bahwa satu bidang tertentu bukan urusan saya ‘ Sa’id Hawa mengatakan bahwa bila jama’ah menderita kerugian dari satu orang, mak; akibatnya akan menimpa seluruhnya. Karena itu pembagian tugas pun merupakai tanggung javvab bersama.

7. Ishlahu nafsihi wa da’watu ghairihi. Mempcrbaiki diri dan menyeru orang lain. Tingkat dai dapat mempengaruhi orang lain adalah sebagaimana ia dapat menguasai dirinya sendiri

2. Tha ‘atullah wa rasulihi

Ketaatan yang teratur dan disiplin, tidak tergantung keingiiian. Beda taat dalam disiplir Islam dan thaghut. Taat dalam Islam dibangun di atas ilmu dan bashirah, bukan taat buta Tingkat ketaatan seseorang sesuai dengan tingkat pemahaman dan wawasan. Setiap ikhwah harus bcrupaya mcnambah ilmu d:m mcmprrluas wawasan. Rasul saw. berdoa, “Rabbi zidni, ‘ilma’. Taat pada Allah dan Rasul dapat dipclihara dan tercermin dalam amal jama’i. Dengan menumbuhkan sikap husnul jundiyah dan mas ‘u/iyah. Sikap keprajuritan dan tanggung jawab yang haik.

Rincian sikap ini adalah sebagai bcrikut:

1. As-Syu’ur hi annal ‘aiuatu fii uyyi maufiq’m ‘ibadah wa qurabah. Merasakan bahwa bagaimanapun pckcrjaan dalam satu posisi bernilai ibadah dan pendekatan diri kepada Allah. Dalam posisi apapun, tanggung jawab yang diberikan harus dirasakan sebagai ibadah, sehingga bisa dilaksanakan dengan baik. Seorang ikhwah pernah dipenjara puluhan tahun, ia menyadari bahwa kondisinya saat itu adalah dalam rangka dakwah dan taqarrub, maka dalam rentang v/aktu itu ia menghafal Al-Quran, berkebun dan hasil kebun ikhwah di penjara dapat meringankan krisis ekonomi di Mesir saat itu.

2. Dtnvamul isti’dad. Selalu siap siaga. Rumah amilin adalah ibarat barak-barak dakwah. Kapan pun diseru, mereka segera bangkit dari barak dan siap melakukan tugas. Sahabat Hanzhalah mendapat julukan ghasilul malaikah (yang dimandikan malaikat), lantaran saat mobilisasi jihad diumumkan ia masih bersama istri barunya kemudian berangkat jihad dan syahid dalam kondisi junub. Sekarang tubuhnya didapali basah oleh para malaikal.

3. Tacfdind imts ‘ul ramzan lil wahclati wal guwwah. Menghormati mas’ul sebagai simbol persatuan dan kekuatan. Memelihara sikap hormat lerhadap mas’ul dan semua rekan dakwah. Dalam satu pepcrangan, satu orang prajurit kehilangan tempat airnya. Melihat hal tersebut seluruh pasukan sibuk mencarikan tempat air itu di sungai. Musuh kaget menyaksikan persatuan yang demikian kokoh. Temannya kehilangan tempat air saja demikian, apalagi bila temannya terbunuh. Pernah pula ada seorang ikhwah yang ditunjuk sebagai mas’ul merasa ada bawahannya yang lebih pandai dari dirinya. la meminta agar ikhwah yang lebih pandailah yang lebih iayak menjabat sebagai mas’ul, namun ikhwah tersebul menolak. Ketika masalah ini sampai kepada Imam Syahid, beliau mengatakan, “Tetaplah Anda pada posisi mas’u}, kalau Anda berhuat salah nanti orang tersebut yang akan memhenarkan Anda^ Coba kalau dia menjadi mas’ul lalu melakukan kesalahan siapa yang akan membetulkannya?

4. I’libar maugi’ihifsughratan bin tsugharil Islatn. Menganggap posisinya adaiah salah satu sari perbatasan islam secara keseluruhan yang harus dipertaiiankan. Ringkasnya menanamkan rasa tanggung jawab yang dalam terhadap keberadaan diri di mana saja. Jangan sampai Islam mendapat keburukan dari posisinya. Pekerjaannya bagaimanapun harus bermanfaat alau bila ihnml (menyepelekan) berarti kerugian bagi Islam.

3. Ta’awun

Ta’awwi dapat terwujud dengan sikap-sikap:

1. Takaful, saling menanggung beban kolektif antara qiyadah dan junud (prajurit). Tak ada potensi yang dianggap kecil dan disepelekan.

2. Tarahum. Sikap ini juga perlu dilurnbuhkan. Pemisahan sikap seorang muslim dengan muslim yang lain, sepcrti satu tubuh. Biia ada anggota yang sakit, maka seluruh tubuh gelisah dan tak dapat tidur. Setiap ikhwah harus mengetahui dan menyadari tugas dan kewajiban ikhwah lainnya. Jadi tidak ada yang merasa beban tertumpuk pada dirinya saja. Perasaan seperti ini penting, kata Sayyid Quthb, orang yang merasakan kebersamaan dalam shaft’ akan terbebas dari beban-beban batin. Merasakan bahwa alam semesta itu adalah junud, semua alam membantu.

3. Talahum^ sedarah sedaging.

Kctiga unsur sikap ini dilakukan dalam rangka ada’ul wajib (pelaksanaan kewajiban) dan takhfiful a’ba(meringankan beban) sesama ikhwah.

4. Tanashuh.

Agama itu tegak dcngan nasihat. Yang paling butuh nasihat adalah yang berada dalam posisi mas’ulin. Dalani hadits dikatakan, An-nashihah li aimmatil mmlimin wa ‘ammatilrim. Semua ikhwah adalah mas’ul, sebab dampak kesalahan mas’ulin akan monycluruh. Untuk proses tanashuh mcmbutuhkan:

I. Al-Ikhlash mufabadil, kcikhlasan dari dua bclah pihak. Dalam scbuah hadis disebutkan,
“Agama adalah nasihat. Kami bertanya (para sahabat), “Untuk siapa? Beliau bersabda, “Vntuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya dan pemimpin kaum muslimin dan orang-orang awam.” Tunaikan nasihat dengan cara yang paling baik dan terimalah seluruhnya. Khalifah Umar peniah ditegur oleh rakyatnya, “Ya Umar ittagillah”. Umar berkata, “Laa khairaftikum An la taquluha wala khairafiina in lan nasma’ha. (Tidak ada kebaikan bila kalian tidak mengatakan hai ini dan tidak ada kebaikan bila kami tidak mau mendengarnya). Memberi nasihat juga harus dengan hikmah (bijak), maksudnya diatur bahasa penyampaiannya, dipMih waktunya, lihat salurannya atau jalurnya, barangkali lebih tepat disampaikan lewat si A.

2, Sirriyah. Nasihat juga baiknya disampaikan tidak vulgar di depan orang lain. Kata seorang ulania, “man wa’azha akhahu sirriyah faqad nahahahu wa zanalm wa man wa ‘azha ‘ahniyah faqad fadhahahu wa syanahu.” (Siapa yang menasihati saudaranya dengan rahasia, ia sungguh telah menasihatinya dan siapa yang menasihati di depan khalayak berarti ia menghina dan mencacinya). Memberi nasihat juga tidak harus segera. Bisa dengan didiamkan dahulu, mungkin saja orang tersebut akan menyadari kesalahannya sendiri. Seperti orang yang diobati sendiri.

5. Tabadul hubbi fillah_

1. Itsar. Saling menjalin rasa cinta karena Allali. Perwujudannya yang paling tinggi adalah itsar. Menurut Iman Ghazali dikutip oleh Sa’id Hawa bahwa itsar itu ada tiga tingkatan. Yang paling rendah adalah menganggap hak saudara kita sebagaimana hak budak, kafau ada lebrhan itu liaknya. Kedua adalah menganggapnya sederajat dan sama dengan dirinya sendiri. Memenuhi kebutuhan ikhwah sebagaimana memenulu” kebutuhan sendiri. Dan ketiga yang paling tinggi adalah mcnenipatkan kepentingan saudara kita di atas kepentingan sendiri. Seperti yang terjadi dalam perang Tabuk, Tiga sahabat meninggal kehausan karena mementingkan saudaranya. Ini sulit sekali, tapi inilah bentuk persaudaraan yang diiakukan Rasululiah saw. di Madinah. Dalam perang, masing-masing jkhwah ingin menggantikan saudaranya. Ada ikhwah yang telah berkeluarga dijatuhj hukuman mati, ikhvvah yang masih bujang ingin menggantikannya. Alasannya bila ia mati, ia tidak meninggalkan siap-siapa, sedangkan bila ikhwah yang telah berkcluarga mati, ia nanli akan meninggalkan islri dan anak-anak yang perlu dipelihara.

2. I�tibarul akh aula min nafsihi. Menganggap ikhwah leblh tinggi kepentingannya dari dirinya. Ini termasuk dalam tingkat itsaryang paling tinggi”.
Salamatus shard. Menurut Imam Ghazali bahwa tingkalan ini adalah tingkat tenendah bentuk cinta karena Allah. Abdullah bin Uniar bin ash dijamin masuk surga karena mcnjclang tidur tidak pernah menyimpan niasalah dengan kaum mukminin. Wala taj’al fi qulubimi ghiUun iillazdina anuniu. Ghill di sini artinya adalah ganjalmi dalam hati yang belum diungkapkan. Sesama ikhwah harus memeiihara perasaan. lapang dada, tidak mudah tersinggung, mudah niemaafkan dan lolcran. Yang didahuIuHan harus husmc zhann (baik sangka). Mungkin saja bila saya yang berada dalam posisi yarig sama sepertinya, saya juga akan berbuat serupa. Kalau ingin minuni air yang sama sekali tidak mengandung kotoran. maka orang akan mati kchausan. Orang yang Jngin mencari teman tanpa kesalahan sania sekali juga ridak akan mcndapatkan tcman.
Wallahu a ‘lam

Sumber: sabili.blogspot.com