Hafshah Binti ‘Umar

Hafshah Binti ‘Umar
-Istri Rasululullah, Pemelihara Al-Qur’an-

Sebuah pepatah mengatakan, “Di balik setiap laki-laki yang agung, pasti ada wanita yang agung pula”.

Tentunya, sangat penting bagi kita untuk menelusuri shirah wanita-wanita mulia di sekitar Rasulullah, sebagai pelajaran bagi kita agar mendapatkan informasi tentang apa yang dialami generasi-generasi terdahulu dan mencontoh jejak mereka sehingga kita tidak mengikuti mode-mode yang malah merusak dan mampu menjaga kekayaan umat agar tidak hilang ditelan kejahatan. dengan demikian, nantinya benar-benar terbukti bahwa Islam bukanlah pembuat kekacauan, melainkan satu kekuatan yang mampu membangun dunia. Juga sebagai pengingat bagi kita tentang bagaimana menerapkan ajaran Islam yang benar melalui penelusuran sejarah hidup nabi saw, para istrinya, putri-putrinya dan para shahabiyah utama yang hidup di sekitar rasulullah saw. Mereka tidak pernah mendurhakai rasul dalam hal kebaikan, bahkan selalu bersegera untuk melaksanakan ketaata  kepada rasul tanpa ragu sedikitpun. Serta masih banyak manfaat yang lainnya.

Nah, Pada kesempatan kali ini, kita akan mengulas perjalanan hidup salah satu istri rasulullah, satu dari ummul mukminin, Hafshah Binti ‘Umar; pemelihara Al-Qur’an…..

***

Hafshah binti Umar Bin Khattab adalah putri seorang laki-laki yang terbaik, Umar Bin Khattab ra. Sayyidah Hafshah ra dibesarkan dengan mewarisi sifat ayahnya. Dalam soal keberanian, dia berbeda dengan wanita lain. Kepribadiannya kuat dan ucapannya tegas, demikian Aisyah ra melukiskan sifat Hafshah ra. Kelebihan lain yang dimiliki Hafshah adalah kepandaiannya dalam membaca dan menulis, padahal ketika itu kemampuan tersebut belum lazim dimiliki oleh kaum perempuan.

Pernikahan Rasulullah SAW dengan Hafshah merupakan bukti cinta kasih beliau kepada mukminah yang telah menjanda setelah ditinggalkan suaminya, Khunais bin Hudzafah bin Qais as-Sahmi Al-Quraisy, seorang sahabat yang turut dua kali hijrah(ke habsyi dan ke Madinah), yang ikut berjihad di jalan Allah SWT dan gugur dalam Perang Uhud. Ayahanda Hafshah sangat sedih karena anaknya telah menjadi janda pada usia yang sangat muda-18 tahun-, sehingga dalam hatinya terbersit niat untuk menikahkan Hafshah dengan seorang muslim yang sholeh agar hatinya kembali tenang.

Untuk itu dia pergi kerumah Abu Bakar dan meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi Abu Bakar diam, tidak menjawab sedikitpun. Kemudian Umar menemui Utsman bin Affan dan meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi pada saat itu, Utsman masih berada dalam kesedihan karena istrinya Ruqayah binti Muhammad, baru meninggal. Utsman pun menolak permintaan Umar. Menghadapi sikap dua sahabatnya, Umar sangat kecewa. Kemudian dia menemui Rasulullah SAW dengan maksud mengadukan sikap kedua sahabatnya itu. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah SAW bersabda, ” Hafshah akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Utsman dan Abu Bakar. Utsman pun akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Hafshah.”

Disinilah Umar mengetahui bahwa Rasulullah SAW yang akan meminang putrinya. Umar merasa sangat terhormat mendengar niat Rasulullah SAW untuk menikahi putrinya, dan kegembiraan tampak pada wajahnya. Umar langsung menemui Abu Bakar untuk mengutarakan maksud Rasulullah SAW. Abu Bakar berkata, “Aku tidak bermaksud menolakmu dengan ucapanku tadi, karena aku tahu bahwa Rasulullah SAW telah menyebut-nyebut nama Hafshah, namun aku tidak mungkin menyebut rahasia beliau kepadamu. Seandainya Rasulullah saw membiarkannya tentu akulah yang akan menikahi Hafshah.” Umar baru memahami mengapa Abu Bakar menolak putrinya. Sedangkan sikap Utsman hanya karena sedih atas meninggalnya Ruqayah dan dia bermaksud mempersunting saudaranya, Ummu Kultsum, sehingga nasabnya dapat terus bersambung dengan Rasulullah SAW. Setelah Utsman menikah dengan Ummu Kultsum, dia dijuluki dzunnuraini ( pemilik dua cahaya ). pada bulan Sya’ban tahun ketiga Hijriya berlangsunglah pernikahan Rasulullah saw dengan hafshah bini ‘Umar, sedangkan pernikahan Utsman dengan ummu Kultsum, berlangsung pada bulan Jumadil akhir di tahun yang sama.

Di rumah Rasulullah SAW, Hafshah menempati kamar khusus, sama dengan Saudah dan Aisyah. Secara manusiawi Aisyah sangat mencemburui Hafshah karena mereka sebaya. Lain halnya dengan Saudah binti Zum`ah yang menganggap Hafshah sebagai wanita mulia putri Umar bin Khattab, sahabat Rasulullah SAW yang terhormat. Umar berpesan kepada putrinya agar berusaha dekat dengan Aisyah dan mencintainya, karena Umar mengetahui bahwa kedudukan Aisyah sangat tinggi dihati Rasulullah SAW juga yang ridha terhadap Aisyah berarti ridha terhadap Rasulullah SAW. Selain itu Umar juga mengingatkan Hafshah agar menjaga tindak tanduknya sehingga diantara mereka berdua tidak terjadi perselisihan. ” Apalah kedudukanmu dibandingkan Aisyah dan apalah kedudukan ayahmu dibandingkan ayahnya” kata Umar. Akan tetapi memang sangat manusiawi jika diantara mereka tetap saja terjadi kesalahpahaman yang bersumber dari perasaan cemburu. Membicarakan kehidupan Hafshoh binti Umar bin Khattab memang tak bisa lepas dari sifat pencemburunya yang besar. Sebenarnya, sifat cemburunya itu lahir dari rasa cintanya yang mendalam kepada Rasulullah. Ia khawatir kalau-kalau Rasulullah kurang memberi perhatian dan cinta yang cukup kepadanya.

Pernah suatu hari, ketika Rasulullah menemuinya, Hafshah bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa mulutmu bau maghafir (minuman dari getah yang berbau busuk)?” “Aku baru saja minum madu, bukan maghafir,” jawab Nabi penuh tanda Tanya keheranan. “Kalau begitu, engkau minum madu yang sudah lama,” timpal Hafshah. Keheranan Rasulullah makin bertambah ketika Aisyah yang ditemuinya mengatakan hal serupa. Saking kesalnya, Rasulullah mengharamkan madu buat dirinya untuk beberapa waktu. Beliau tak tahu kalau Hafshoh telah ‘bersepakat’ dengan Aisyah lantaran Keduanya cemburu karena Nabi tinggal lebih lama dari jatah waktunya di rumah Zainab binti Jahsy. Waktu itu Nabi tertahan karena Zainab menawarkan madu kepada beliau. Perbuatan Nabi mengharamkan madu itu kemudian ditegur oleh Alloh swt.

Kecemburuan Hafsah yang lain ketika Hafshah melihat Mariyah al-Qibtiyah, seorang budak yang dihadiahkan oleh Al Muqaiqis kepada Rosululloh (seorang budak pada masa itu boleh digauli), datang menemui Nabi SAW dalam suatu urusan. Mariyah berada jauh dari masjid, dan Rasulullah SAW menyuruhnya masuk kedalam rumah Hafshah yang ketika itu sedang pergi kerumah ayahnya, dia melihat tabir kamar tidurnya tertutup, sementara Rasulullah SAW dan Mariyah berada di dalamnya. Melihat kejadian itu amarah Hafshah meledak, Hafshah menangis penuh amarah. Rasulullah SAW berusaha membujuk dan meredakan amarah Hafshah, bahkan beliau bersumpah mengharamkan Mariyah baginya kalau Mariyah tidak meminta maaf pada Hafshah, dan Nabi SAW meminta agar Hafshah merahasiakan kejadian tersebut. Akan tetapi, kejadian itu segera menyebar, padahal Rasulullah SAW telah memerintahkan untuk menutupi rahasia tersebut. Berita itu akhirnya diketahui Rasulullah saw sehingga beliau sangat marah, Rasulullah SAW bermaksud menceraikan Hafshah, tetapi Jibril mendatangi beliau dengan maksud memerintahkan beliau untuk mempertahankan Hafshah sebagai istrinya karena dia adalah wanita yang berpendirian teguh. Rasulullah SAW pun mempertahankan Hafshah sebagai istrinya, terlebih karena Hafshah sangat menyesali perbuatannya dengan membuka rahasia yang memurkakan Rasulullah SAW. Rasulullah mendatangi anak Umar bin Khattab itu dan berkata, “Ya Hafshoh, hari ini Jibril datang kepadaku dan memerintahkan kepadaku “irji’ ilaa Hafshoh, fainnaha hiya showwama, qowwama wa hiya azawaajuka fil jannah” (kembalilah kepada Hafshoh, sesungguhnya ia wanita yang senantiasa puasa, mendirikan shalat, dan ia adalah istrimu kelak di surga). Akibat rasa cemburunya yang berlebihan itu pula, Hafshoh ditegur langsung oleh Allah melalui firman-Nya dalam surat At-Tahrim ayat 3 dan 4.

Umar bin Khattab kemudian mengingatkan kembali putrinya agar tidak lagi membangkitkan amarah Rasulullah SAW dan senantiasa mentaati dan mencari keridhaan beliau. Hafshah pun memperbanyak ibadah terutama puasa dan sholat malam. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga Rasulullah SAW wafat.

Karya besar Hafshah bagi Islam adalah terkumpulnya Al Qur`an ditangannya setelah mengalami penghapusan. Dialah istri Nabi SAW yang pertama kali menyimpan Al Qur`an dalam bentuk tulisan pada kulit, tulang, dan pelepah kurma, hingga kemudian menjadi sebuah Kitab yang sangat agung. Dialah yang dipercaya untuk memelihara dan menyimpan Mushaf al-qur’an. Mushaf asli Al Qur`an itu berada dirumah Hafshah hingga dia meninggal. ketika ayahnya, umar bin Kaththab, merasa ajalnya sudah dekat akibat ditikam oleh seorang majusi bernama Lu’lu’ah, pada bulan dzulhijjah tahun ke 23 Hijriyah, hafshahlah yang diserahi tugas untuk mengurus harta peninggalan Umar.

Tentang wafatnya Hafshah, sebagian riwayat mengatakan bahwa Sayyidah Hafshah wafat pada tahun ke-47 pada masa pemerintahan Mu`awiyah bin Abu Sufyan. Dia dikuburkan di Baqi`, bersebelahan dengan kuburan-kuburan istri-istri Nabi SAW yang lain. ia berwasiat kepada saudaranya, ‘Abdullah bin Umar, sebagaimana wasiat yang pernah disampaikan ayahnya kepadanya. Semoga Allah meridhai pemelihra Al-Qur’an, wanita yang disebut jibril sebagai wanita yang berpendirian teguh dan istri nabi saw di surga…

 ***

*dari berbagai sumber. Versi lain untuk bacaan tambahan bisa dibaca disini

~6hood~

Advertisements