Jalan Cinta Para Pejuang

di sana, ada cita dan tujuan
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan amsa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi

lalu di sepertiga malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
dengan cita yang besar, tinggi dan bening
dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati

teruslah melnglang di jalan cinta para pejuang
menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban,
menyeru pada iman
walau duri merantaskan kaki,
walau kerikil mencacah telapak
sampai engkau lelah, sampai engkau payah
sampai keringat dan darah tumpah

tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang

-Ust. Salim A. Fillah-

Advertisements

Palestina Tercinta

 

 

 

 

 

Untukmu jiwa-jiwa kami
Untukmu darah kami
Untukmu jiwa dan darah kami
Wahai Al-Aqsho tercinta

Untukmu jiwa-jiwa kami
Untukmu darah kami
Untukmu jiwa dan darah kami
Wahai Al-Aqsho tercinta

Kami akan berjuang
Demi kebangkitan Islam
Kami rela berkorban
Demi Islam yang mulia

Untukmu, Palestina tercinta
Kami penuhi panggilanmu
Untukmu, Al-Aqsho yang mulia
Kami kan terus bersamamu

Untukmu, Palestina tercinta
Kami penuhi panggilanmu
Untukmu, Al-Aqsho yang mulia
Kami kan terus bersamamu

Untukmu jiwa-jiwa kami
Untukmu darah kami
Untukmu jiwa dan darah kami
Wahai Al-Aqsho tercinta

Ya Robbi, izinkanlah kami
Berjihad di Palestinamu
Ya Alloh, masukkanlah kami
Tercatat sebagai syuhadamu

Ya Robbi, izinkanlah kami
Berjihad di Palestinamu
Ya Alloh, masukkanlah kami
Tercatat sebagai syuhadamu
Tercatat sebagai syuhadamu
Tercatat sebagai syuhadamu…

nasheed Palestina Tercinta…

Munsyid : Shoutul Harokah
sumber: http://liriknasyid.com

Seperti Itulah Da’wah…

…..
Memang seperti itulah dakwah.

Dakwah adalah cinta.
Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.
Sampai pikiranmu.
Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu..

Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah.
Tentang umat yg kau cintai..

Lagi-lagi memang seperti itu Dakwah.
Menyedot saripati energimu.
Sampai tulang belulangmu.
Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu.
Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .
Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari..

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah.
Beliau memang akan tua juga.
Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz.
Dia memimpin hanya sebentar.
Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung.
Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah.
Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.
Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja.
Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok.
Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal.
Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik.
Kepalanya sampai botak.
Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana.
Kurang heroik?
Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah;
luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan.
Bukannya tidak membosankan.
Dakwah bukannya tidak menyakitkan.
Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan.
Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya.
Setiap hari.
Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi…  akhirnya menjadi adaptasi.
Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah.
Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman.
Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit.
Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.
Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar.
Saat Rasulullah wafat, ia histeris.
Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk.
Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.
Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran.
Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu.
Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore.
Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu.
Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah.
Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.
Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar.
Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… ”

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak.
Jasadnya dikoyak beban dakwah.
Tapi iman di hatinya memancarkan cinta…
Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(alm. Ust Rahmat Abdullah)

Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya harus mengalah.

In memorian Ust. Rahmat Abdullah
Wallahu’alam
-3hood-

Teruntuk Saudaraku yang Kucintai di Persada Allah

Assalamu’alaykum Wr. Wb

Apa kabar hati ?

Apa kabar iman ?

Lama sekali rasanya sedetik tak mengingatmu. Sahabatku, sungguh diri ini ingin berucap rindu padamu. Siang malam aku mengingatmu. Ku ingin tahu bagaimana keadaanmu. Setiap kali gelisah melandaku, kutahu engkau mendoakanku dengan sepenuh hati. Begitu pula lantunan doamu kala sepertiga malam menjelang, kau sisipkan namaku di dalamnya. Kau memang sahabatku yang romantis….

Sungguh bahagia memiliki sahabat sepertimu….

Sahabat…surat ini kutulis dengan perasaan bercampur aduk. Sedih, pilu, rindu, juga harap. Dalam sekelabat juta rasa yang ada dalam diri ini, Allah mengirimkan namamu hadir dalam pikiranku. Kuingat kembali masa indah bersamamu. Bahagianya bersamamu…Kala tawa itu hadir kita lewatkan bersama dengan tak lupa berdzikir menyebut nama Allah. Saat gundah kita saling mengingatkan untuk tetap istiqamah

…sabar…sabar…sabar…

tiga kata yang indah….

Dalam harap cemas yang sangat, kucoba tuk lantunkan kata hati ini melalui goresan mungil. Kuingin masa indah bersamamu takkan lekang untuk selamanya. Sahabatku, aku mencintaimu….izinkan aku tuk ungkapkan sekali lagi…
AKU BENAR-BENAR JATUH CINTA KEPADAMU….

Sudikah engkau membersamaiku dalam suka dan duka ?

Maukah engkau menghabiskan waktumu meniti jalan ke surga bersamaku ?

Kita semai bersama impian besar menjadikan orang dan lingkungan di sekeliling kita mencintai Rabbnya. Aku mengharapkanmu agar dapat mengingatku di setiap waktumu. Betapa besar gelombang hati ini tuk benar-benar katakan :

Aku ingin meminangmu….

Kutunggu jawabanmu sahabat…setiap detik sangat berarti untukku…

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

Dari yang selalu mencintaimu,

– Da’wah –



sepenggal cerita, tentang kita#6

Sebuah ayat… tentang dakwah di keluarga:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(Q.S 66:6)

Allah…….. sungguh, ayat itu membuatku menitikkan air mata… tapi insyaAllah, aku masih bisa mengusahakan untuk bercerita kepada kalian tentang aku dan keluargaku, tentang sejauh apa aku “melangkah”, disana, di keluargaku.

Bismillahirrahmanirrahim…..semoga apa-apa yang tertulis ini bisa bermanfaat. Aamiin.

Dakwah di keluarga. Hmm… Alhamdulillah. Walaupun kedua orangtuaku bukan berlatar belakang keluarga “da’i-da’iyah”, namun mereka  memiliki nilai-nilai dan prinsip kebaikan yang kuat. Keduanya sepakat dan satu irama dalam hal ini: bahwa ajaran agama itu sangatlah penting, bahwa anak-anak shalih-shalihatlah yang mereka impikan. Hal itu terbukti dengan pendidikan agama yang diterapkan kepadaku dan kepada saudara-saudaraku. Sejak kecil, aku dan saudara-saudaraku sudah dibina oleh TPA di masjid di dekat rumah kami. Dan selepas SD, anak-anak mama dan papa semuanya di”transfer” ke pondok pesantren, kecuali aku memang, yang karena sesuatu hal saat itu tidak bisa melanjutkan pendidikan ke ponpes, waktu itu aku sempat kecewa juga, kenapa tidak bisa seperti saudara-saudaraku yang lain, namun Allah tahu tang terbaik utnukku, tidak jadi santri di pesantren “terbayar” dengan pendidikan yang kudapat di madrasah tsanawiyah yang menghantarkanku semakin kuat dalam menuntut ilmu dan beribadah, alhamdulillah. Dan  dari titik itu pula aku menjadi seseorang yang bertekad untuk senantiasa lebih baik. Sujud syukur untuk semua yang telah Allah berikan….(maybe next time, aku bisa bertutur kepada kalin tentang kisah ini… ^_^V)

Kau tahu, saudara-saudaraku semuanya sudah mengecap pendidikan di pesantren, jadi tentu saja kepahaman mereka tentang agama cukuplah memadai(dibanding kan aku dan mama papa mungkin). Namun ya begitulah… pendidikan dari pesantren tentu saja tidak menjamin anak-anak didiknya akan seratus persen jadi ulama2 ahli agama bukan?! Setidaknya, itulah yang terjadi dengan saudara-saudaraku. Tak satupun dari mereka yang ”nyangkut” di bidang2 semacam ilmu syari’ah, tafsir, atau tarbiyah mungkin??! Atau apapunlah yang semacam itu… semuanya di bidang-bidang ”nun jauh” dari ponpes. Ada yang di kepolisian, dunia medis, juga dunia hukum. (Tapi tak apa juga sie, asalkan.. apapun profesinya, Allah tujuannya). Tapi ya demikian, seperti kau tahu juga kan sahabat, tentang ini: orang yang sudah tahu, kalo dia “nyimpang”, susah dikasih tahunya… ngeyel seringkala.

Nah, memang, dakwah di keluarga ga gampang, tapi…. bisa, insyaAllah. Hmm… katanya dalam pemilu 2009 kemarin, politik memang bukan nomor 1, tapi nomor… delapan. Hehe… alhamdulillah. Kalo soal ini, keluargaku ga menghalang-halangi, alhamdulillah mereka mendukung, sampai-sampai papa memberiku nama ini: PKS, eits… bukan partai keadilan sejahtera lho… tapi…. putri kesayangan semua… putri kesayangan saya. Ya alhamdulillah… menjadi anak bungsu adalah anugerah, walaupun kau tahu menjadi anak bungsu kerap kali mendapat pandangan “diremehkan”, dan aku sadar maka dari itu yang bisa aku lakukan adalah menunjukkan lewat sikapku. Biar mereka melihat sendiri, biar mereka yang menilai sendiri, toh mereka2 lebih dewasa daripada aku. Dan nilai-nilai itupun menyentuh mereka…step by step…aku yakin bisa… dan inipun menjadi mega proyek tersendiri bagiku…kita saling mendoakan ya, sahabat…

Hmpph…ya. satu saja yang bisa kuungkap dari pengalanan2 sendiri(yang kali ini sepertinya tidak bisa komplit aku ceritakan) dan pengalaman2 yang kudengar dari orang lain yang berkompeten itu… bahwa hal terpenting yang harus kita perlihatkan adalah keteladanan, akhlak kita di keluarga kita. Sejauh mana kita memberi, sejauh mana kita berarti. Wallahua’lam bishshowab…

Dan… Ahh…maafkan ya, sahabat…. Sepertinya cukup segini dulu…. Pada kesempatan kali ini, tak banyak memang yang bisa kubagi, maybe next time? Ya, mudah2an yang sedikit ini bisa berarti dan kapan2 bisa disambung lagi…^_^ (tapi kapan, yak?! Hehe :p)

Akhir kata, i just wanna say: BRIGHTEN UP! Keep fight, keep smile…

Serta  izinkan aku menutup tulisan ini dengan doa itu…

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku.

Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan.”

(Q.S 14: 40-41)

…semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita… …mengistiqomahkan kita di jalan-Nya.

dan teruntuk mama dan papa tercinta,  yang telah berbuat terbaik yang mereka bisa…

…Allahummaghfirli waliwalidaiya warhamhuma kama rabbayani shoghiraa…

semoga Allah membalas surga…

…Aamiin ya Rabbal’alamiin…

~~6hood~~

Dorama..

Eratkan Genggaman, kawan…

2day n 4ever..

jalan ini kiAn peNuh liku terjal dan semakin disesaki araL

hujan gerimis topan badai huru halilintar menggelegar tak ayal surutkan langkah perjuangan

ada yg mengeluh..

ada yg m’rs jeNuh

ada yg terbaring jatuh,

s0ntak lisan’a b’kt

…..LELAH….

adapuLa yg lelah,

tubuh’a diselimuti  peNat

sM9t’a ttP kuat dan mencuat,

ia b’kata :

….LILLAH…..

sejarah takkan pernah berulang lagi, kesempatan tak hadir tuk yang kedua kali, nafas tak ada yang tau kapan terhenti…

hanYa satu yang pasti,

KITA ADA DISINI PUNYA ARTI…

menyibak keberartian dalam kerangka eksistensi di antara seJagad semesta,

dan BERSAMA KITA BISA…


>>semilir kegundahan hati yang semoga tak pernah terbukti

~3hood~