Todays Diary: Sepenggal Cerita Hari Ini…

Ba’da tahmid wa sholawat, semoga apa2 yang tertulis ini bermanfaat,

assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Dear diary sisterhood…

Pagi ini, menerima sms dari seorang ukhtiy tercinta, dulunya sahabat selingkaran, selanjutnya rolling2 boleh jadi membuat kita menjalani ujian keimanan, “apakah istiqamah ataukah keluar dari jama’ah…??” ah… berpisah… Namun alhamdulillah… keep in touch, teman… barakallah…

membaca dan mengingat kembali sms sahabatku itu… hmphhh… menghela nafas sejenak, ada rasa bergejolak, mungkin ini rindu… maka kutulis disini, semoga bisa dibaca juga oleh yang lainnya… “semoga mencintaimu Dzat yang membuatmu mencintaiku, ukhtiy….love u too because of Allah…”

lalu takdir… bukan main, seperti firasat hati tadi pagi, hari ini benar2 dipertemukan Allah dengannya(sahabatku tadi, red) di forum itu, dalam sebuah seminar gede2an yang diadakan oleh FORSALAMM UGM. indahnya cinta….

yah, cukup segitu deh reunian2nya, hehe… kapan2 disambung lagi aja dah…(tp ga janji nie ya… he :p)

nah, sekarang ceritanya nih, kan ada seminar gede buat para kader kampus tuh… kali ini mengangkat tema “Bangkitkan ruh tarbiyah dari UGM madani…” subhanallah… temanya itu lho… keren! apalagi sebagai pembicara dalam acara ini mnghadirkan penulis buku favorit saya, ust. Salim A. Fillah, yang pada kesempatan kali ini mengisi sesi membangkitkan motivasi alias kesadaran(untuk membina), juga ada ust. Abu ridho yang dipanelkan dengan Pak Purwo(yang menggantikan Pak Kamsul Abraha yang berhalangan hadir, keduanya sama2 ADKP di UGM sie) pada sesi selanjutnya(membahas seputar marhalah dakwah, juga dakwah mihwar dauli).

acara yang digelar di GOR Kridosono Yogyakarta ini pun berhasil menyedot massa yang tidak sedikit(tapi tak dapat pula dikatakan sangat banyak, hehe), mulai dari ADK sampai ADS, mulai dari yg S1 sampai S3, mulai dari ADKP UGM sampe ADKP rumah(ummahat2 maksudnyah) yang tak lupa pula memboyong buah hati mereka yang masih kecil2 itu, dan bukan pula hanya warga UGM… namun juga teman2 aktivis dari kampus yang lain…(sempat bertemu temen2 TTs, setahu saya, mereka ga kuliah di UGM, tapi aktivis dakwah juga di kampusnya masing2). hmm… subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaha illallah, wallahuakbar… amal jariyah deh buat panitianya…^_^

well, bagi yang hadir dalam seminar ini, pastinya inget juga sesi bagi2 hadiah dari para MC… yup! penghargaan bagi mereka yang berprestasi, dari yang IPK-nya hampir 4(ukhtiy Beta, PD’06, dg ipk 3,98…ohya, sharing info, ayahanda beliau meninggal dunia beberapa hari lalu… moga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya… dan keluarga yang ditinggal diberikan ketabahan…allahumma aamiin…), juga bagi kader2 yang berhasil memenangkan kompetisi2 ilmiah baik itu skala local sampai interlokal(internasional maksudnya mah…he)

untuk isi materi setiap sesi, haduh… panjang banget deh kalo mau dishare di sini(alesan! padahal ga nyatet, ato pas seminar tidur yak??! hehe, kagak tidur kok… cuma rada krg fokus aja, dan sesekali ngobrol ama yg duduk di samping saiya, >_<). namun akan saya coba ‘tuk menuliskan beberapa hal yg cukup berkesan…

pertama dari ust. gaul Salim A.Fillah. hmm… ustadz Salim menjelaskan 9 point terkait “kenapa harus dakwah tarbiyah?” tapi karena waktu, jadi yang dishare ama ustadz hanya beberapa point saja, yng saya catat juga cuma beberapa, intinya adalah… “Ayo membina!” hehe, ini mah saya ringkas dg bahasa saya sendiri ya, setangkap saya, kira2 begitulah yang ingin diteriakkan oleh ust. Salim. Walah…. ust. Salim emang suka nonjok2, kata seorang kawan(atawa kita sahaja yg merasa ditonjok2 yah…?!). juga tentang kisah murabbiyah dan sebutir jeruk… weleh… laen kali ga bawa gorengan lagi deh.. bawa sebutir jeruk ajah(loh!). he.

selanjutnya sesi kedua oleh ust. Abu Ridho… subhanallah… betapa kata2 beliau menyiratkan kedalaman ilmu yg beliau punya. secara… buku beliau kan udah buanyak juga ya…hehe… jadi seperti kata sayyidina Ali, ikatlah ilmu dengan tulisan, maka saya rasa, dengan terbitnya buku2 karya beliau itu, tentulah banyak kali ilmu yg telah beliau ikat… barakallah…

begitupun dengan Pak Purwo(beneran pak Purwo bukan yah… kebeneran saya kurang denger nama lengkapnya…T_T), beliau juga ketara banget “sensasi” ADKP-nya, taujih yang meluncur dari beliau, terkait dengan kalimat2 ilmiah IPTEK, contohnya, marhalah dakwah yg dianalogikan sbagai sel-sel telur haploid diploid bla bla bla…hehe, saya kurang mudeng(tepatnya kurang denger, karna rada ga fokus tadi)… maaph yah…^_^

hmm, kali ini ga banyak share ilmu sie(wew…emang kemaren2 share ilmu gituh!?)… namun, yah, alhamdulillah, insyaAllah dari agenda hari ini banyak hikmah dan ilmu yg saya peroleh, salah satu pengalaman lain adalah saat menanti bus saat berangkat dan pulang. Ternyata bus jalur 6 sekarang sudah sangat langka, teman… maka saat berangkat ke TKP saya numpang(plus bayar donk) Trans Jogja jalur 3A. dan pulangnya naek bus biasa jalur 4. nungguin bus membutuhkan waktu bermenit2 bahkan puluhan menit. hmm… gapapa, jadi nambah pengalaman, nambah wawasan, dan membuat saya sadar, bahwa kita bisa karna terbiasa(pasalnya pas naek bus kepala saya jadi puyeng dan rada mual, karna udah lama ga sering naek bus gitu deh…gayenye ye, hehe 😀 ). ada hikmah dan pembelajaran insyaAllah.

yup, segitu aja deh diary hari ini, waktu jua yang memisahkan kita, kapan2 nulis2 lagi dimari… insyaAllah. hehe, like a diary… boleh kan yah?! ^_^

dan terimakasih, teman… untuk segalanya… semoga hari2mu pun indah sepertiku, seperti hari ini….

terakhir, inilah dia! sms sahabatku itu…, ku foward untukmu, kalo bisa mah dibales ke hape or kolom komen yah, teman… hehe… ^_^v barakallahu fiik…

“Apa kabar hatimu? masihkah ia embun? merunduk tawadhu’ di pucuk2 daun…

apa kabar imanmu? masihkah ia karang? berdiri tegar hadapi gelombang ujian…

apa kabar akhlaqmu? masihkah ia bintang? terang benderang terangi kehidupan…

apa kabar saudariku? dimanapun engkau berada semoga Allah senantiasa melindungi dan menjagamu…

love u coz Allah… 🙂 “

wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Advertisements

Our Food: Halal wa Thayyib…

Our Food: Yang penting halal dan baik, enak juga boleh…

 d^_^b

***

~6hood~

*setelah melahap nasi liwet, sayur lodeh, dan tempe mendoan buatan bersama. Mmm…nyummy…thanks ya Allah…^_^

Kanal-kanal Harapan….


Harta yang paling berharga, adalah…keluarga

Istana yang paling indah, adalah…keluarga

Puisi yang paling bermakna, adalah…keluarga

Mutiara tiada tara, adalah…keluarga

Begitu luas dan dalam peran dan fungsi apa yang kita sebut dengan KELUARGA, sehingga Arswendo Atmowiloto mengabadikannya dalam bait-bait syair yang begitu indah. Ya, keluarga merupakan tempat dimana untuk pertama kalinya kita diajarkan tentang beragam nilai, terutama nilai-nilai kebaikan, tempat pertama dimana proses pembentukan karakter diri kita ditempa, selain lingkungan sekitar serta pengalaman-pengalaman hidup yang kita jalani pada fase-fase berikutnya.

Padamu, aku ingin sedikit berkisah tentang keluargaku…

Dengan izin-Nya, syukur alhamdulillah aku ditakdirkan menjadi sulung dari 3 bersaudara. Kedua saudaraku semuanya adalah perempuan, keluarga kecil yang InsyaAllah menjadi keluarga bahagia. Keluarga yang mungkin masih memiliki basic agama yang belum cukup kuat namun alhamdulillah kami bertiga ditempa di sekolah yang berasaskan islam semenjak kecil. Meski demikian, kadangkala beberapa hambatan cukup banyak kami temui, khususnya dalam ikhtiar dakwah keluargaku. Walaupun lingkungan tempat tinggal kami merupakan lingkungan yang cukup “aman” karena cukup banyak ikhwah yang bedomisili di sekitar sana, namun hal tersebut belum bisa berpengaruh cukup besar di dalam keluarga kami terutama kedua adikku. Alhamdulillah ayah sudah “mengaji” dan ibu sudah memiliki pengajian rutin. Akan tetapi kedua adikku belum, terutama adikku yang pertama. Di usia adik-adikku yang masih rawan, sudah seharusnya aku melakukan pendekatan yang lebih, namun jarak yang cukup jauh cukup menjadi hambatan bagiku untuk lebih dekat dengan mereka. Pergaulan serta gaya hidup remaja saat ini cukup menjadi tolak ukur bagi kedua adikku dalam berkegiatan sehari-hari. Pola asuh orangtuaku yang cukup demokratis namun cenderung permisif juga cukup menjadi hambatan karena mereka cenderung memberi kebebasan terhadap apa yang hendak adik-adikku lakukan, selama prinsip pokok yang harus mereka pegang yakni bisa menjaga diri dapat terjaga.

Hmm….demikian pula halnya yang terjadi pada keluarga besar ku. Sebagian besar sepupu ku adalah perempuan dan sudah semestinya mereka bisa menjaga harkat dan martabat mereka sebagai perempuan namun mereka sungguh terpengaruh dengan life style zaman sekarang terutama pakaian serta pergaulan lawan jenis. Kondisi ini sungguh membuatku sedih bahkan sampai menangis karena aku belum bisa melakukan banyak hal yang dapat mempengaruhi mereka ke arah yang lebih baik. Selama ini yang bisa kulakukan hanyalah meberi teladan lewat tingkah laku serta ucapan, namun untuk berbicara secara lebih lanjut dan cukup mendalam belum bisa kulakukan.

Berdasarkan life planku pada tahun ini (2010), di usia yang menginjak 22 tahun ini, ada dua rencana besar yang akan kulakukan, yaitu LULUS S1 dan MENIKAH. Aku berharap dan berdo’a pada-Nya, agar semoga sang imam yang kan mendampingiku kelak dapat membimbingku serta membantu dalam berdakwah di keluargaku, sehingga keluargaku dapat merasa bangga dengan identitasnya sebagai seorang muslim dan dapat menjalani hidup sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama serta jauh dari gaya hidup yang kurang bermanfaat.

_2sisterhood_

sepenggal cerita, tentang kita#6

Sebuah ayat… tentang dakwah di keluarga:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(Q.S 66:6)

Allah…….. sungguh, ayat itu membuatku menitikkan air mata… tapi insyaAllah, aku masih bisa mengusahakan untuk bercerita kepada kalian tentang aku dan keluargaku, tentang sejauh apa aku “melangkah”, disana, di keluargaku.

Bismillahirrahmanirrahim…..semoga apa-apa yang tertulis ini bisa bermanfaat. Aamiin.

Dakwah di keluarga. Hmm… Alhamdulillah. Walaupun kedua orangtuaku bukan berlatar belakang keluarga “da’i-da’iyah”, namun mereka  memiliki nilai-nilai dan prinsip kebaikan yang kuat. Keduanya sepakat dan satu irama dalam hal ini: bahwa ajaran agama itu sangatlah penting, bahwa anak-anak shalih-shalihatlah yang mereka impikan. Hal itu terbukti dengan pendidikan agama yang diterapkan kepadaku dan kepada saudara-saudaraku. Sejak kecil, aku dan saudara-saudaraku sudah dibina oleh TPA di masjid di dekat rumah kami. Dan selepas SD, anak-anak mama dan papa semuanya di”transfer” ke pondok pesantren, kecuali aku memang, yang karena sesuatu hal saat itu tidak bisa melanjutkan pendidikan ke ponpes, waktu itu aku sempat kecewa juga, kenapa tidak bisa seperti saudara-saudaraku yang lain, namun Allah tahu tang terbaik utnukku, tidak jadi santri di pesantren “terbayar” dengan pendidikan yang kudapat di madrasah tsanawiyah yang menghantarkanku semakin kuat dalam menuntut ilmu dan beribadah, alhamdulillah. Dan  dari titik itu pula aku menjadi seseorang yang bertekad untuk senantiasa lebih baik. Sujud syukur untuk semua yang telah Allah berikan….(maybe next time, aku bisa bertutur kepada kalin tentang kisah ini… ^_^V)

Kau tahu, saudara-saudaraku semuanya sudah mengecap pendidikan di pesantren, jadi tentu saja kepahaman mereka tentang agama cukuplah memadai(dibanding kan aku dan mama papa mungkin). Namun ya begitulah… pendidikan dari pesantren tentu saja tidak menjamin anak-anak didiknya akan seratus persen jadi ulama2 ahli agama bukan?! Setidaknya, itulah yang terjadi dengan saudara-saudaraku. Tak satupun dari mereka yang ”nyangkut” di bidang2 semacam ilmu syari’ah, tafsir, atau tarbiyah mungkin??! Atau apapunlah yang semacam itu… semuanya di bidang-bidang ”nun jauh” dari ponpes. Ada yang di kepolisian, dunia medis, juga dunia hukum. (Tapi tak apa juga sie, asalkan.. apapun profesinya, Allah tujuannya). Tapi ya demikian, seperti kau tahu juga kan sahabat, tentang ini: orang yang sudah tahu, kalo dia “nyimpang”, susah dikasih tahunya… ngeyel seringkala.

Nah, memang, dakwah di keluarga ga gampang, tapi…. bisa, insyaAllah. Hmm… katanya dalam pemilu 2009 kemarin, politik memang bukan nomor 1, tapi nomor… delapan. Hehe… alhamdulillah. Kalo soal ini, keluargaku ga menghalang-halangi, alhamdulillah mereka mendukung, sampai-sampai papa memberiku nama ini: PKS, eits… bukan partai keadilan sejahtera lho… tapi…. putri kesayangan semua… putri kesayangan saya. Ya alhamdulillah… menjadi anak bungsu adalah anugerah, walaupun kau tahu menjadi anak bungsu kerap kali mendapat pandangan “diremehkan”, dan aku sadar maka dari itu yang bisa aku lakukan adalah menunjukkan lewat sikapku. Biar mereka melihat sendiri, biar mereka yang menilai sendiri, toh mereka2 lebih dewasa daripada aku. Dan nilai-nilai itupun menyentuh mereka…step by step…aku yakin bisa… dan inipun menjadi mega proyek tersendiri bagiku…kita saling mendoakan ya, sahabat…

Hmpph…ya. satu saja yang bisa kuungkap dari pengalanan2 sendiri(yang kali ini sepertinya tidak bisa komplit aku ceritakan) dan pengalaman2 yang kudengar dari orang lain yang berkompeten itu… bahwa hal terpenting yang harus kita perlihatkan adalah keteladanan, akhlak kita di keluarga kita. Sejauh mana kita memberi, sejauh mana kita berarti. Wallahua’lam bishshowab…

Dan… Ahh…maafkan ya, sahabat…. Sepertinya cukup segini dulu…. Pada kesempatan kali ini, tak banyak memang yang bisa kubagi, maybe next time? Ya, mudah2an yang sedikit ini bisa berarti dan kapan2 bisa disambung lagi…^_^ (tapi kapan, yak?! Hehe :p)

Akhir kata, i just wanna say: BRIGHTEN UP! Keep fight, keep smile…

Serta  izinkan aku menutup tulisan ini dengan doa itu…

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku.

Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan.”

(Q.S 14: 40-41)

…semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita… …mengistiqomahkan kita di jalan-Nya.

dan teruntuk mama dan papa tercinta,  yang telah berbuat terbaik yang mereka bisa…

…Allahummaghfirli waliwalidaiya warhamhuma kama rabbayani shoghiraa…

semoga Allah membalas surga…

…Aamiin ya Rabbal’alamiin…

~~6hood~~

Deru Debu Lembaranku..

Aku terlahir dari sebuah keluarga yang multi agama. Ayah adalah seorang muslim, sedangkan ibu adalah seorang katholik. Ayah  berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, sementara ibu berasal dari Yogyakarta. Sehingga, keluarga besarku yang ada di Yogyakarta sebagian besar adalah Katholik dan ada pula yang Kristen. Namun syukur alhamdulillah, keempat kakakku (aku anak paling bungsu) menganut dinullah, Al- Islam.

Meski demikian, kehidupan keluarga kami jauh dari islam. Hingga kelas 1 SMA, sholatku saja  masih bolong-bolong, apalagi ibadah yang lain. Dan kakak-kakakku pun sampai sekarang masih seperti itu.

Hingga akhirnya Allah menurunkan Rahmat Kasih-Nya…

Hijrah itu pun jua dikaruniakan-Nya kepada keluargaku. Peristiwa itu terjadi saat aku masuk ke jenjang SMA. Ketika itu aku bertemu dengan seorang kakak mentor yang kemudian mengajakku untuk bergabung ke Rohis, dan sejak itu pula aku rajin mengikuti mentoring secara rutin.

Dan putaran episode indah bersama-Nya mulai kusemi…

Setelah masa orientasi siswa (MOS),  hidayah itu menyapaku.  Ingin rasanya mengenakan jilbab, meski belum dapat menutupi keseluruhan auratku secara sempurna. Niatan ini lantas aku sampaikan kepada Ibu. Pada awalnya beliau begitu menyayangkannya, dengan alasan karena eman-eman seragam yang baru jadi harus kebuang sia-sia, dan tentu saja itu berarti aku juga harus membuat seragam lagi. Allah selalu menolong bagi hamba-Nya yang berbuat kebaikan dan kebenaran. Selang beberapa lama, meski melalui perdebatan yang lumayan panjang, ibu akhirnya menyetujui, bahkan kakak keempat yang hanya terpaut setahun dan sekolah di SMA yang berbeda, juga menginginkan membuat seragam yang berjilbab. Setelah itu, aku begitu merasa lebih nyaman dan Alhamdulillah konsisten memakai jilbab, walau masih modis dan pendek.

Sebuah pengalaman spiritual ini mengubah sudut pandangku suatu saat. Saat itu terjadi, aku tengah duduk di bangku  kelas 2 SMA. Sebuah kenyataan yang harus kuhadapi. Ibuku harus diopname di rumah sakit karena diabetesnya, dan kakinya terancam harus di amputasi. Suatu sore saat aku menunggui ibu, kulihat di depan mata kepalaku sendiri beliau menggenggam seuntai kalung dengan bandul salib. Sementara di dadanya diletakan sebuah alkitab dan ibu pun bergumam dengan kata-kata dan intonasi yang tidak begitu jelas sehingga tidak dapat saya mengerti maksudnya. Lantas kemudian aku keluar dan menemui ayah. Dalam keadaan menangis, aku bertanya “pah, kenapa mama seperti itu?” dan ayah hanya menjawab “ya mama mu memang seperti itu.”

Semenjak kejadian itu hingga sekarang, aku menjadi jauh dari ibu. Aku benar-benar tidak bisa menerima bahwa ibuku seperti itu. Semua yang beliau lakukan menjadi buruk di mataku, walaupun hingga detik ini, aku selalu mendoakan beliau agar kembali ke jalan yang benar. Akan tetapi, entah, aku tidak bisa menganggapnya sebagai seorang ibu layaknya.

Kondisi keluargaku benar-benar membuatku terpuruk. Aku benar-benar takut azab ALLAH menimpa keluargaku.

Kakakku yang pertama, sebut saja Ade, ia berkelahiran tahun 1979. Dan kemudian memutuskan untuk menikah pada saat aku duduk di kelas 2 SMA. Istrinya adalah tetangga kami, dan mereka berdua tinggal tidak jauh dari rumah kami. Seperti kebanyakan keluarga lain di kampungku yang memang sangat plural, keluarga baru kakakku ini pun tidak agamis. Sholat hanya sholat jumat saja, istrinya juga tidak sholat. Sampai dengan sekarang, terus terang aku khawatir dengan buah hati mereka. Kondisi keluarga yang seperti itu tentu langsung tidak langsung, cepat atau pun lambat akan mempengaruhi proses perkembangannya, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Sedang kakakku yang kedua, sebut saja mbak Rieke, kelahiran 1980, aku begitu merasakan seolah ada tembok tinggi lagi kokoh terbentang diantara kai sehingga aku merasa sangat jauh dari nya karena pandangan hidup kami yang berbeda. Dia sangat liberal dan sangat jauh dari agama, tidak pernah sholat, apalagi ibadah yang lain. Saat ini ia belum menikah, dan tengah bekerja sebagai seorang biro hukum di sebuah instansi. Gaya hidupnya seperti orang metropolitan kebanyakan. dan aku tidak menyukainya. Hubungan kami tidak terlalu baik, dan aku pun cenderung untuk tidak bertemu dan berkomunikasi dengannya.

Kakak ketigaku, sebut saja Mas Aiman, kelahiran 1981. Saat ini bekerja  sebagai seorang pengacara dan pebisnis di salah satu kota terbesar di Indonesia, tentu kehidupan materilnya sangat tercukupi, tapi dia juga jauh dari agama. Sholatnya jarang dan  menikah dengan status MBA. akhirnya mereka menikah resmi pada tahun 2007, saat itu anak pertamanya sudah berumur lebih dari setahun.

Kakakku keempat, sebut saja mbak Lora,  kelahiran 1987. Dengan beliau aku cukup dekat. Dari kecil, kami selalu bersama, sampai kami berpisah sekolah waktu SMA, dikarenakan perbedaan dalam memilih SMA. Saat ini ia masih kuliah , angkatan 2005 dan masih menyusun skripsi. Kakakku ini sering berjilbab, walaupun belum konsisten. Sholatnya juga agak rajin, meski masih bolong-bolong. Dulu pernah ikut mentoring beberapa waktu. Akan tetapi,semenjak bertemu dengan pacarnya yang sekarang, yang mengaku seorang salafi, dia jadi jarang berhubungan dengan ikhwah. walaupun dia tahu aku ikhwah dan pernah suatu saat ia berkata padaku “kamu itu jangan cuma berdakwah di luar, tapi keluarga juga didakwahi.” waktu itu saya baru semester 1 dan saya kaget dengan kata-katanya.

Ayah menemukan hidayahnya pada tahun 2006. Ketika itu beliau divonis menderita stroke ringan dan harus menjalani  terapi. Pada saat terapi itu, ayah  jadi lebih sering tahajud dan muhasabah. Ibadahnya jadi rutin, dan selalu sholat subuh dan magrib sampai isya di masjid dekat rumah.  Beliau juga bercerita kalau ada seorang ustadz muda yang datang dan mengajarinya mengaji setiap bada magrib itu. suatu saat pada saat semester 3, aku berbincang dengannya bahwa aku  aktif di salah satu parpol. Ayah awalnya mempermasalahkannya, apalagi aku masih kuliah. Namun pada akhirnya ayah saya meminta agar kuliahku tidak terbengkalai dan ketika  berorganisasi di parpol itu akan menjadi bekal kehidupanku kedepan yang sangat berarti. walaupun ayah  pernah trauma ketika kakak keduaku saat kuliah dulu pada tahun 1998 mengikuti pergerakan mahasiswa yang menjelma menjadi parpol  yang dituduh komunis. waktu itu kakak  disuruh berhenti kuliah dan akhirnya pindah kuliah .  Kondisi traumatis itu masih terlihat pada ayah,  akan tetapi karena aku jelaskan bahwa parpol yang kubersamai itu berdasar agama dan untuk berdakwah, bahkan aku juga memberikan buku profil kadernya kepada ayah, waktu itu ayah  akhirnya meridhoi kegiatanku di parpol tersebut. Diantara kata-kata ayah  yang paling teringat olehku adalah ketika pada suatu saat beliau berkata, “diantara anak-anak papa, cuma kamu yang bisa deketin papa ke agama.” dan itu yang menjadi kekuatanku.

Pada saat ini, ayah dan ibu  menempati rumah di salah satu kecamatan di Provinsi DIY dan membuka usaha warung makan di sana.Aku tinggal bersama kakak keempat  di rumah yang menjadi satu dengan keluarga tante  yang beragama Kristen. Walaupun satu rumah, tetapi lebih mirip dua rumah yang didempetkan, karena kami beraktifitas sendiri-sendiri. namun tetap saja aku tidak merasa nyaman.

Aku sedang berpikir untuk mengontrak rumah kecil di dekat kampus karena memang pekerjaan saya di kampus. Saat ini aku sedang mencari kontrakan dan berharap dapat mengajak kakak  pindah ke tempat yang lebih nyaman.

Keluargaku memang tidak kondusif untuk berdakwah. Akan tetapi, aku merasa bahwa memang aku sendiri yang tidak terlalu kuat untuk berdakwah di keluarga sehingga lebih banyak pasif, terlebih karena posisiku sebagai anak bungsu, sehingga akupun lebih banyak aktif di luar, dan cenderung pasif di rumah.

Saat ini, keinginanku untuk menikah sudah sangat besar. Pertama adalah untuk menjaga diri saya. Dengan kehidupanku yang sedemikian dinamis, aku mulai merasa perlu untuk mendapat bimbingan dan penjagaan dari seorang imam. Kedua, untuk keluargaku, karena aku tidak merasa cukup kuat untuk berdakwah di keluarga, aku butuh seseorang yang bisa bersama , memperkuat jalanku untuk berdakwah di keluarga karena tentu saya sangat sedih dengan kondisi keluargaku dan aku ingin merubahnya. hanya saja,aku tidak sanggup melakukannya sendiri.

wallahualam bishowab.

~1hood~

Karena Belajar Bukan Sebentar dan Entar…

“…do’a untuk mama-papa yah, jangan lupa shalat malamnya, shubuhnya apa lagi…masa kalah sama ayam Jago…?, usah memikirkan urusan-urusan yang memusingkan mama-papa disini, tugasmu cuma satu, BELAJAR..”

Masih menari-nari di benakku rangkaian kalimat yang acapkali kedua orang terkasih dalam hidupku tersebut pesankan padaku lewat udara. Ya, semenjak perantauanku ke kota orang ini, komunikasi via udaralah yang menjadi senjata paling ampuh tuk mengobati sekaligus merawat berbagai kegundahan yang acapkali singgah di hatiku.

BELAJAR..

Anandamu akan terus belajar ma, pa..

BELAJAR BERBAGAI ILMU PENGETAHUAN..

BELAJAR BERSOSIALISASI

BELAJAR MENGEMBANGKAN DIRI

BELAJAR BERORGANISASI

BELAJAR BERMORAL & ETIKA

BELAJAR MENGENAL & MEMAHAMI HIDUP

BELAJAR UNTUK LEBIH BERARTI & BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN

BELAJAR UNTUK HIDUP INI & MENDATANG…

Liat ma, pa….

AKU KAN TERUS BELAJAR…IYAH !

Meski sebenarnya aku memahami bahwa pengertian yang kubuat tersebut terlalu meluas dari apa yang mereka definisikan.

Suatu pagi di hari Ahad..

“…tu kan, udah bisa papa tebak, pasti sedang tidak berada di kos, ada-ada saja acaramu di hari libur ini, inilah…itulah…kapan coba libur gini papa telpon sedang santai di kos..?”

di lain kesempatan, di sore hari…

“…rapat lagi, rapat lagi…terakhir pas mama minta tolong sesuatu juga lagi sibuk rapat, kenapa sih kamu terlalu sibuk mikirin orang-orang ?……..”

Terkadang hal-hal seperti diatas menjadi sebuah dilematis, saat aku harus memilih apakah aku harus memilih kedua orang tuaku tenang & lega hingga senyum merekah di wajah yang mulai terlihat keriput itu.. ataukah “senyuman” ALLAH karena sejatinya aku adalah milik-Nya..?, bukankah ridha orang tua juga Ridha-Nya…?

Saudaramu adalah amanah yang Allah titipkan padamu yang harus engkau jaga dengan sebaik-baiknya…

Di lain sisi, “kenalurian” seorang kakak bagi seorang adik yang ditinggalkannya mendera-dera bersama cuplikan persoalan lain yang pun harus kuhadapi.

Aku mengajak mereka yang disini untuk mengingat ALLAH, tapi sudahkah aku peringatkan adikku di rumah uang tengah asYik dengan game di tangannya tersebut…?

Aku mengingatkan mereka untuk bersegera menunaikan shalat tepat waktu, namun apakah aku sudah memastikan adikku ‘sudah shalat’ ?

Aku mengajarkan mereka untuk berakhlak seperti yang di sunnahkan oleh Rasullullah, tapi aku biarkan curhatan mama-papa yang letih menghadapi perangai adikku..?

Aku….aku…..aku…..ah,,,,

Mama,papa…

Engkau benar, aku masih harus banyak-banyak BELAJAR, yah sesederhana itu, namu kaya makna dibaliknya..

Aku akan terus belajar, belajar, dan belajar…

Titip Rindu untuk Mama-Papa,

semoga ALLAH semakin cinta…

saLam terkasih karena ALLAH

~3hood~