10 Hal yang Meningkatkan Motivasi

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

Sering kita menyaksikan orang yang tampak tidak bergairah dalam menjalani kehidupan. Ia melakoni hidup mengalir begitu saja bersama waktu, tanpa menunjukkan adanya sebuah semangat dan motivasi dalam menjalani kegiatan. Di berbagai tempat kita melihat orang-orang yang melaksanakan kegiatan dengan keterpaksaan, anak-anak sekolah yang datang tanpa kehadiran perasaan, para pegawai kantor yang masuk kerja tanpa semangat yang menyala. Ada apa dengan mereka ?

Indonesia harus dibangun dengan semangat menyala. Upaya perbaikan di berbagai bidang kehidupan harus dilaksanakan dengan sepenuh pikiran, tenaga, waktu, harta bahkan jiwa. Tidak bisa dikerjakan dengan semaunya, tanpa tenaga, tanpa jiwa, tanpa etika. Hidup harus kita nikmati dengan sepenuh motivasi, agar semua langkah kita menjadi berarti. Masuk sekolah dengan penuh motivasi, kuliah dengan penuh percaya diri, bekerja dengan sepenuh hati, melakukan kegiatan kemasyarakatan dengan penuh dedikasi.

Agar hidup ini bisa lebih kita nikmati, semestinya harus berangkat dari motivasi. Apakah yang membuat anda termotivasi dalam menjalani kegiatan sehari-hari ? Coba perhatikan sepuluh poin berikut ini. 

1. Memiliki Visi Hidup yang Jelas

Apa visi hidup anda ? Ingin menjadi apa anda dalam kehidupan ini ? Bahagia dunia dan bahagia akhirat, itukah visi hidup anda ? Anda ingin masuk surga ? Alhamdulillah, semoga itu visi anda. Berjalanlah anda menuju visi yang telah anda tetapkan itu. Setiap kali anda bangun tidur, segera ingatkan diri, bahwa anda harus bekerja keras mencapai visi yang anda canangkan. Visi anda tidak mungkin terwujud dengan bermalas-malas dan tak mau kerja keras. Motivasi terus diri anda dengan visi yang telah anda tetapkan. Surga tidak datang dengan sendirinya, namun anda harus berjalan bahkan berlari menyambutnya.

Seorang pelajar SMA menetapkan visi ingin lulus Ujian Nasional dan bisa masuk Universitas Indonesia. Inilah visi “jangka pendek” yang ada dalam benaknya. Namun sangat jelas. Maka ia akan belajar keras dan melakukan berbagai aktivitas yang menunjang tercapainya keinginan tersebut. Ia akan rajin masuk sekolah, rajin mengerjakan tugas, rajin ke perpustakaan, rajin belajar, karena ingin lulus Ujian Nasional dan masuk Universitas Indonesia. Dengan itu ia akan termotivasi melakukan yang terbaik demi tercapainya visi yang ditetapkannya.

2. Ingin Menjadi Pemenang

Jika anda mengikuti perlombaan lari, yang membuat anda berusaha berlari dengan cepat meninggalkan semua peserta lainnya adalah keinginan untuk menjadi pemenang. Keinginan menjadi pemenang ini menjadi sebuah motivasi yang luar biasa dahsyat, karena anda bersedia mengeluarkan energi terhebat yang anda miliki. Hidup ini adalah bab mengambil kesempatan, karena Tuhan pergulirkan kesempatan itu kepada semua manusia. Siapa yang terjaga, waspada, dan siap siaga, akan bisa menang mengambil kesempatan yang Tuhan pergilirkan. Jadilah pemenang dalam kehidupan.

Seorang mahasiswa ingin mencapai indeks prestasi tertinggi dan lulus paling cepat dibanding teman-teman kuliahnya. Keinginan menjadi pemenang seperti ini membuat dia rajin kuliah, rajin ke kampus, rajin ke perpustakaan, rajin mengumpulkan tugas, rajin konsultasi, dan rajin belajar di rumah. Ia rela mengorbankan kesenangan dirinya demi meraih cita-cita besarnya. Ia tidak rela dirinya dikalahkan oleh teman-teman kuliahnya. Ia harus menjadi juara. Inilah motivasi yang luar biasa besarnya dalam hidup anda.

3. Ingin Sukses Menghadapi Tantangan Kehidupan

Tidak ada kehidupan yang tanpa tantangan. Semua orang memiliki tantangan dalam menjalani aktivitas keseharian. Keinginan anda untuk bisa sukses menghadapi tantangan kehidupan ini menjadi motivasi yang luar biasa besar bagi anda untuk menjalani kehidupan dengan tegar dan penuh energi. Anda tidak cepat dibuat putus asa jika menghadapi tantangan, karena anda ingin mengalahkannya. Seperti anak sekolah yang belajar keras karena ingin lulus ujian dengan baik. Begitulah hidup kita, harus berusaha serius untuk mengalahkan tantangan yang pasti datang.

Seorang pengusaha kecil yang memiliki usaha warung makan sederhana, merasa tertantang saat melihat ada usaha serupa yang baru saja buka di dekat tempat usahanya. Ia menjadi termotivasi mengelola warung makannya dengan lebih baik setelah ada tantangan di depan matanya. Semula ia berlaku santai saja, karena tidak ada tantangan yang ada di hadapannya. Begitu ada pesaing yang bisa mengancam usahanya, ia menjadi lebih bersemangat mengelola warung makannya. Tantangan memang membuat hidup lebih menarik dan lebih berwarna.

4. Ingin Membahagiakan

Jika anda seorang suami yang ingin membahagiakan isteri, anda harus berusaha sekuat kemampuan untuk bisa merealisasikannya. Jika anda orang tua, hal yang memotivasi aktivitas kehidupan adalah ketika anda ingin membahagiakan anak anda. Seorang lelaki tua telah berjalan jauh dari kampungnya, menuju rumah seseorang yang diyakini memiliki sepatu bekas untuk anaknya. Karena anaknya tidak memiliki sepatu sementara hari senin besok sudah harus masuk sekolah. Ia ingin membahagiakan anaknya. Ia tidak ingin mengecewakan anaknya yang masuk sekolah tanpa sepatu.

Seorang suami rela menyisihkan sebagian uang yang dimilikinya rutin setiap hari, demi membahagiakan isterinya. Ia berusaha menabung dengan uang yang tidak seberapa besar, namun itu ia lakukan secara rutin setiap hari. Ia ingin membelikan sepeda motor untuk isteri tercinta, karena isterinya harus antar jemput anak-anaknya yang sekolah sementara jaraknya cukup jauh. Selama ini isterinya naik sepeda kayuh. Ia ingin isterinya memiliki sepeda motor. Keinginan membahagiakan ini yang memotivasi dia melakukan penghematan belanja demi membelikan motor bagi isteri tercinta.

5. Memiliki Cinta Membara

Cinta membuat anda bersedia melakukan apa saja. Demi seseorang yang anda cintai, anda melakukan kegiatan dengan volume yang sangat padat. Siang dan malam anda tetap melakukan sesuatu, demi orang-orang yang anda cintai. Seorang isteri yang sangat mencintai suami, berusaha berdandan dan berpenampilan yang paling menarik agar selalu disayangi suami. Ia mengikuti klub senam aerobik, ia rutin merawat tubuhnya ke skincare ternama. Ia rela menghabiskan banyak uang untuk menyenangkan hati suami yang sangat dicintai.

Sebagai suami yang sangat mencintai isteri, anda akan rela bekerja mencari rejeki dengan mengeluarkan energi yang luar biasa besarnya. Demi menghidupi anak dan isteri, demi menuntaskan rasa cinta membara, anda rela mengerjakan berbagai aktivitas sejak pagi hingga malam hari. Rasa lelah seakan sudah tidak terasa lagi, semua demi orang-orang tercinta. Bahkan pasangan suami dan isteri yang berada di titik puncak persoalan rumah tangga, sampai ingin bercerai, bisa kembali berada dalam suasana normal karena cinta mereka kepada anak-anak yang sedemikian besarnya. Mereka tidak ingin melihat anak-anak bermasalah masa depannya akibat orang tuanya bercerai. Maka mereka memutuskan untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga, demi cinta mereka kepada anak-anak hasil pernikahan mereka.

6. Ingin Memberikan yang Terbaik

Jika anda seorang pegawai di sebuah instansi, yang memotivasi anda datang ke kantor dan bekerja dengan serius adalah keinginan memberikan yang terbaik dalam dunia kerja anda. Jika anda aktivis kemasyarakatan, keinginan memberikan yang terbaik bagi masyarakat menyebabkan anda rela melakukan berbagai aktivitas tanpa mendapatkan upah atau imbalan. Anda kerjakan penuh dedikasi, karena ingin memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat, walaupun untuk itu harus mengorbankan berbagai kepentingan anda. Misalnya, harus keluar dana dari saku anda sendiri, mengorbankan waktu anda, mengorbankan fasilitas yang anda miliki.

Jika anda aktif dalam dakwah, yang memotivasi anda adalah keinginan memberikan yang terbaik untuk tercapainya tujuan dakwah. Anda tidak ingin dakwah melemah, maka anda selalu berusaha melakukan tindakan yang terbaik, memberikan waktu, tenaga, harta dan semua fasilitas kehidupan yang anda miliki demi suksesnya kegiatan dakwah. Karena itulah anda tidak berhitung lagi tentang resources yang anda keluarkan untuk melancarkan dakwah. Semua anda keluarkan dengan sepenuh kesadaran tanpa ada penyesalan.

7. Ingin Memberi Teladan

Kadang anda melihat kenyataan betapa minimnya keteladanan dalam kehidupan. Untuk itu anda berusaha untuk selalu memberikan keteladanan bagi semua orang. Dimulai dari rumah tangga anda sendiri, anda ingin anak-anak tumbuh menjadi shalih dan tidak tercemar oleh perilaku menyimpang yang sangat banyak melanda generasi muda. Untuk itu anda selalu berusaha memberikan contoh kehidupan yang baik agar anak-anak anda mengerti dari teladan yang anda tampilkan setiap hari.

Jika anda menjadi tokoh masyarakat, sangat ingin anda memberikan keteladanan bagi seluruh warga. Berbagai kerusakan moral dengan sangat mudah disaksikan di tengah kehidupan masyarakat, sedih sekali anda melihat itu semua. Banyak kalangan masyarakat menghendaki anda memberikan contoh teladan karena telah sedemikian mewabah kerusakan moral yang ada. Anda merasa memiliki kewajiban memberikan contoh keteladanan, maka anda rela meninggalkan berbagai hal yang anda anggap tidak memberikan keteladanan. Semua anda kerjakan dengan penuh dedikasi demi bisa memberi keteladanan terbaik bagi keluarga dan masyarakat.

8. Ada Hasil yang Jelas Manfaatnya

Anda akan sangat bersemangat melaksanakan kegiatan apabila anda meyakini bahwa dari kegiatan tersebut mendatangkan kemanfaatan yang sangat jelas. Bisa jadi kemanfaatan tersebut berupa meningkatnya kepangkatan, meningkatnya penghasilan, meningkatnya jenjang keanggotaan, meningkatnya hasil usaha, meningkatnya jumlah anggota, meningkatnya omset, meningkatnya perolehan suara, dan lain sebagainya. Bisa pula kemanfaatan tersebut bercorak kualitatif, misalnya meningkatnya penghormatan, meningkatnya kasih sayang, meningkatnya pengetahuan dan lain sebagainya.

Apabila anda tidak melihat ada manfaat yang jelas, akan sangat berat bagi anda mengikuti suatu kegiatan. Maka sangat penting bagi anda untuk mencari dan menemukan kemanfaatan yang jelas dalam setiap aktivitas rutin yang anda lakukan. Misalnya, apa kemanfaatan shalat yang rutin anda lakukan ? Apa kemanfaatan puasa yang anda lakukan selama sebulan ? Apa kemanfaatan belajar dalam kehidupan anda ? Apa kemanfaatan silaturahim ? Apa kemanfaatan olah raga ? Coba cari dan temukan berbagai kemanfaatan dalam setiap aktivitas yang anda lakukan.

9. Ingin Menunaikan Kewajiban

Kewajiban harus ditunaikan, karena jika dilalaikan akan mendapatkan catatan pelanggaran. Misalnya seorang guru, ia memiliki kewajiban mengajar di kelas. Harusnya ia memiliki visi yang jelas untuk mencerdaskan bangsa Indonesia melalui pengajaran. Dengan visi besar ini, maka dia mengajar bukan semata-mata karena menunaikan kewajiban, namun karena penunaian visi besar. Seandainya tidak memiliki visi sebesar itu, minimalnya memiliki kemauan untuk menunaikan kewajiban.

Seandainya ada seorang suami yang tengah mengalami kelunturan cinta terhadap isterinya, ia masih bisa mendapatkan motivasi dari keinginan untuk menunaikan kewajiban menafkahi keluarga. Jika ia tidak bekerja mencari nafkah, berarti telah melalaikan kewajiban sebagai suami. Maka sang suami ini bekerja dengan bersungguh-sungguh agar bisa mendapatkan rejeki yang mencukupi untuk memberi makan anak dan isteri. Dengan cara itulah ia menunaikan kewajiban sebagai suami.

10. Ingin Mendapatkan Apresiasi Positif

Kadang orang termotivasi karena ingin mendapatkan apresiasi yang positif oleh orang lain. Misalnya seorang politisi melakukan aktivitas sosial kemasyarakatan, salah satu motivasinya adalah ingin mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat dan media, bahwa dia adalah seorang yang memiliki kepedulian sosial yang nyata. Dia ingin mendapatkan simpati massa dengan aktivitasnya, di tengah kerusakan yang terjadi pada banyak pelaku politik dan aktivis partai politik. Dia ingin tunjukkan sisi-sisi kemanusiaan, bahwa politik tidak selalu bermakna penipuan dan pembunuhan karakter.

Namun keinginan yang harus paling kuat adalah agar mendapatkan apresiasi positif dari Tuhan Yang Maha Mengetahui segala perbuatan hamba. Bukan hanya keinginan mendapatkan apresiasi positif dari manusia, lebih dari itu harus termotivasi untuk mendapatkan apresiasi positif dari Tuhan. Ingin mendapatkan pahala dan balasan kebaikan dari Tuhan. Itulah motivasi yang sangat tinggi untuk berprestasi, motivasi yang tinggi untuk melakukan semua aktivitas dengan mencurahkan semua potensi yang dimiliki.

Senayan, 27 Mei 2011

*dicopy langsung dari web pak Cahyadi Takariawan: http://cahyadi-takariawan.web.id/

dari Obituari Seorang Ummi: Mari Belajar Kokoh dari Ustadzah Yoyoh Yusroh

Baru semalam saya menuliskan obituari mbak Nurul F.Huda… lalu pagi ini, kembali saya disapa kabar duka serupa, kepergian seorang mujahidah Indonesia, seorang shalihat, yang akan membuat langit dan bumi menangisinya… Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un…

Selamat jalan Ummi… bahagialah disana…

Pagi, 21 Mei 2011

Teriring doa, dalam urai air mata

Dan malam ini, bersama muhasabah diri…kembali.

Rabb, belum seberapa beban yang Engkau beri pada kami… maka jangan Engkau biarkan diri kami ini melemah, mundur teratur dari jalan cinta para pejuang ini… karena disini pula telah Engkau perlihatkan kepada kami, bagaimana harusnya kami belajar kokoh dari mereka…

Mari Belajar Kokoh dari Ustadzah Yoyoh Yusroh                                   

Oleh: Hatta Syamsyuddin

Hari ini Sabtu 21 Mei 2011 bertepatan dengan 18 Jumadits Tsani, kita kehilangan seorang mujahidah dakwah, ustadzah, muballighoh, bunda yang penuh kesabaran : Yoyoh Yusroh. Masyarakat banyak  mengenalnya sebagai Anggota DPR RI dari Fraksi PKS yang sangat gigih memperjuangkan RUU pornografi. Usulan cerdas beliau tentang kemungkinan tentara TNI wanita berjilbab juga menarik banyak pihak untuk mencermati langkah beliau. Keterlibatannya di kerja dewan sejak tahun 1999 tidak menyurutkan langkahnya dalam dakwah dan tarbiyah di tengah masyarakat. Taujihat dan ceramahnya senantiasa dinanti setiap kader dakwah khususnya akhwat muslimat. Panggilan Bunda yang dialamatkan kepada beliau menunjukan penghargaan dan arti khusus diri beliau di hati setiap akhwat kader dakwah. Beliau kini telah meninggal, namun catatan kebaikan telah banyak ditorehkan, saatnya bagi kita untuk meneladani dan melanjutkan perjuangannya.

Setiap kematian meninggalkan pesan, pesan untuk mengingat betapa dekatnya kita dengan alam barzah. Pesan untuk mengingat dan menyebut kebaikan yang meninggal agar ada langkah yang nyata dalam mengikuti kebaikan-kebaikan yang ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kamu menghadiri orang yang sakit atau orang yang meninggal, maka katakanlah yang baik, maka sesungguhnya malaikat mengaminkan (membaca amin) atas apa yang kamu katakan.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain dari al-Bukhari, bahwasanya satu jenazah dibawa melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat radiyallahu ‘anhum, lalu mereka menyebutkan kebaikan-kebaikan orang tersebut. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wajib”. Lalu lewat lagi satu jenazah yang lain, lalu mereka menyebutkan kejahatan kejahatannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi, “Wajib”. Maka Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu bertanya, “Apakah gerangan yang wajib?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ini yang kamu sebutkan atasnya kebaikan, maka wajiblah baginya surga; dan ini yang kamu sebutkan atasnya kejahatan, maka wajiblah baginya neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari)

Air mata akan segera mengering, gundukan tanah akan segera membatu, kesedihan akan segera ditumpuki dengan agenda kesibukan lainnya, maka marilah sejenak kita mengenang kebaikan beliau, kebaikan dan hanya kebaikanlah yang layak untuk dikenang dari setiap insan. Mari belajar kokoh dari ustadzah Yoyoh Yusroh

Pertama: Teladan Fisik yang Kuat dan Komitmen dalam menjaga kesehatan
Aktifitas dakwah membutuhkan energi yang luar biasa. Ini yang disadari oleh ustadzah Yoyoh Yusroh, maka beliau punya komitmen yang sangat tinggi dalam menjaga kesehatan, dan juga mengingatkan kader dakwah yang lain agar peduli kesehatan. Afifah Afra menuliskan kenangannya bersama ustadzah Yoyoh Yusroh dalam suatu kesempatan memberikan tausiah di depan para muslimah Semarang. Beliau sangat menganjurkan para muslimah untuk menjaga kesehatan. Menekankan untuk mengonsumsi banyak sayur dan buah-buahan, serta meninggalkan segala jenis makanan instan yang berpengawet. Lebih tegas ustadzah Yoyoh Yusroh menjelaskan: “Rahim seorang wanita harus dipersiapkan untuk menghasilkan generasi yang terbaik. Jadi, makanlah hanya sesuatu yang halal dan toyib.”  Komitmen beliau yang tinggi ini pun bisa dengan mudah dibuktikan di depan mata. Melahirkan 13 putra dan putri tentu dibutuhkan penjagaan fisik yang luar biasa, belum ditambahi aktifitas dakwah dan kegiatan yang sangat padat. Beliau mampu melewati hari-hari sibuknya dengan stamina yang kuat. Saat ditanya seorang akhwat tentang resep fitnya, beliau mengingatkan untuk jangan lupa mengonsumsi habbatus sauda dan madu.

Kedua: Kesabaran Luar Biasa
Melahirkan, merawat dan membesarkan 13 orang anak adalah hal luar biasa yang mutlak membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Betapa banyak kader dakwah yang hari ini mengumbar keluhkesah dan berteriak kerepotan, sementara mereka baru dikarunia satu dua anak, dengan amanah dakwah yang tak seberapa. Kegiatan beliau yang begitu padat tentulah membutuhkan kesabaran luar biasa. Dalam kehidupan rumah tangga beliau adalah contoh kesabaran seorang ummahat, karena beliau seringkali diminta –terkadang bersama suaminya- untuk mengisi talkshow dan seminar  dengan teman keluarga islami. Beliau berpesan  tentang kunci sukses membina rumah tangga: “Dalam membina rumah tangga, yang penting prinsipnya saling memberi. Tidak ada yang superordinat atau subordinat antara laki-laki dan wanita. Sejak awal menikah komitmen itu harus ada.  Laki dan wanita punya keistimewaan.”. Banyak lagi pesan dan petuah beliau tentang rumah tangga, yang sungguh telah dibuktikan sejak awal dalam kesabaran beliau mengarungi rumah tangga. Sekali lagi, dengan 13 orang anak!

Ketiga: Aktif Bergerak 
Ustadzah Yoyoh Yusroh juga menjadi teladan akhwat muslimah dalam kiprah bagi dakwah dan masyarakat. Amanah beliau yang begitu banyak senantiasa beliau tuntaskan dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya dalam konteks internal partai atau dalam negeri, namun juga tampil aktif dalam organisasi internasional bahkan perjuangan internasional membela Palestina. Beliau memimpin rombongan Viva Palestina yang dikoordinir oleh Komite Nasional Rakyat Palestina (KNRP), dan melalui perjuangan berat akhirnya mampu menembus Gaza dengan dikawal barisan panser tentara Mesir. Kiprah beliau yang sangat padat bisa dilihat dari rentetan tugas  dan penghargaan yang beliau dapat. Selain di DPR beliau juga aktif sebagai anggota Dewan Pakar ICMI (Tahun 2005-2010), bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Lansia.  Tak hanya itu, sejumlah tanda jasa pun pernah diterimanya, seperti International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2000, International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2003, dan Mubaligh National dari Departemen Agama RI tahun 2001. Sebuah gambaran sekaligus teladan, seorang ummahat yang sukses meramu antara ranah domestik dengan pengabdian kemasyarakatan.

Keempat: Ruhiyah Tinggi
Aktivitas dakwah dan kemasyarakatan yang begitu padat akan sangat melelahkan tanpa siraman ruhiyah yang teratur dan pada porsi yang istimewa. Ustadzah Yoyoh Yusroh tahu dan meyakini dengan pasti hal tersebut. Karenanya beliau senantiasa menghiasi hari-hari padat aktifitasnya dengan charger ruhiyah yang terus dijaga dan ditingkatkan. Tilawah dan mengulang hafalan Quran adalah rutinitas harian yang tak terlewatkan. Salim A Fillah pernah mendapati beliau bersama suami tengah asyik mengulang hafalan berdua, bergantian menyimak dan membenarkan. Secara khusus, beliau senantiasa menyelesaikan tilawah tiga juz setiap harinya. Tentu sebuah capaian yang luar biasa, yang barangkali tak terbayangkan dalam benak banyak kader yang selalu gagal menyelesaikan satu juz tilawah karena alasan kesibukan. Ketika ditanya bagaimana mungkin menyempatkan diri untuk tilawah sebanyak itu dalam setiap harinya, ustadzah Yoyoh Yusroh menjawab dengan yakin dan mantap: “Justru karena sibuk dan banyak hadapi aneka persoalan serta begitu beragam manusia, maka harus memperbanyak Al-Qur’an”. Subhanallah

Kelima: Penyayang dan Peduli
Banyak akhwat yang terkesan dengan kesederhanaan dan ketawadhukan beliau, dan lebih dari itu kedekatan personal dan ukhuwah yang dibuktikan dengan langkah nyata. Panggilan bunda dan ummi menandakan tempat khusus di hati para akhwat. Seorang akhwat muda begitu terkesan saat dalam sebuah pertemuan kedua dengan beliau, ustadzah Yoyoh Yusroh masih mengingat betul nama dan asalnya, serta menanyakan tentang kegiatan dan aktifitas terbarunya.  Hal ini jelas menunjukkan kepedulian dan kasih sayang beliau yang tulus kepada para akhwat, tanpa pamrih, seperti kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

Akhirnya, tentulah masih banyak teladan kebaikan yang telah ditorehkan oleh ustadzah Yoyoh Yusroh, coretan singkat ini tak akan pernah mampu mewakili kebaikan dan keteladanan dari sosok daiyah dan mujahidah ini. Sekali lagi marilah belajar kokoh dari ustadzah Yoyoh Yusroh. Mari belajar memuhasabahi diri atas langkah yang amal yang telah kita torehkan setiap hari.

Beberapa hari sebelum meninggal, beliau menuliskan SMS berisikan kegelisahan dan muhasabah hatinya kepada seorang akhwat: “ Ya rabb, aku sedang memikirkan posisiku kelak diakhirat. Mungkinkah aku berdampingan dengan penghulu para wanita Khadijah Al-Kubra yang berjuang dengan harta dan jiwanya? Atau dengan Hafshah binti Umar yang dibela oleh Allah saat akan dicerai karena shawwamah (rajin puasa-red) dan qawwamahnyaI (rajin tahajud-red)? Atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500 an hadits, sedang aku…. ehm 500 juga belum… atau dengan Ummu Sulaim yang shabiroh (penyabar) atau dengan Asma yang mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihad… atau dengan siapa ya. Ya Allah, tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliah mereka… sehingga aku layak bertemu mereka bahkan bisa berbincang dengan mereka di taman firdaus-Mu.

Sumber: www.dakwatuna.com

Malam, 27 Mei 2011

Teriring doa untuk para sahabat disana…
semoga istiqamah di jalan-Nya

Jalan Cinta Para Pejuang

di sana, ada cita dan tujuan
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan amsa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi

lalu di sepertiga malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
dengan cita yang besar, tinggi dan bening
dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati

teruslah melnglang di jalan cinta para pejuang
menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban,
menyeru pada iman
walau duri merantaskan kaki,
walau kerikil mencacah telapak
sampai engkau lelah, sampai engkau payah
sampai keringat dan darah tumpah

tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang

-Ust. Salim A. Fillah-

Salam dari cowo Bejad

SALAM DARI COWOK BEJAD!!!

Hai cewek, ups! Oh Assalamu’alaikum ukh, salam ukhuwah! Haha saya hanya niru apa yang biasa ikhwan yang ucapkan kepada ukhti, hmm untuk nyebutnya kadang saya ga bener maklumlah bahasa Arab saya kan ga pernah belajar, baca Iqro aja plentat-plentot, tapi yang penting keliatan kalo saya ikhwan deh.

Kenapa kalian bisa begitu mempesona dibalik pakaian besar kalian? More

Ringkasan Intima’ Jama’i

Esensi intima’ Jama’i harus mencakup dimensi (kedalaman) yang melampaui batas-batas formalitas dan bentuk-bentuk lahiriyyah semata.

1. Ab’adul intima (Dimensi Intima’ jama’i)
a. Bu’dun aqidi (dimensi aqidah). Akidah seorang ikhwah harus lurus dan benar-benar sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an dan Sunnah, sehingga akan melenyapkan ketergantungan pada factor figuritas terhadap orang tertentu. Intima’ terhadap jama’ah berarti juga pengerahan seluruh kekuatan diri untuk dakwah, menundukkan kepentingan individual untuk kepentingan Islam, bukan sebaliknya.
b. Bu’dun Fikri (dimensi pemikiran). Pemikiran ikhwah harus terikat dengan fikrah Islam secara total dan prinsipil yang tercermin dalam segia akhlak, pergaulan, pandangan dan pemikiran.
c. Bu’dun tanzhimi (dimensi structural). Dimensi ini mengaharuskan seorang ikhwah keluar dari jerat ego dan individualisme kemudian melebur falam kepentingan jama’ah. Intima’nya tidak temporal, terus intima terhadap apapun kondisi jama’ah. Dimensi ini akan mencerminkan sifat  As-Sam’u wat Tha’ah dan hunul indibath(disiplin yang baik)

2. Muqtadhayatul Intima’(Tuntutan-tuntutan Intima’)
A. Wala Aqidi, Loyal terhadap akidah, mewujudkannya melalui:
1. Al Isti’la, terlepas dari ikatan-ikatan duniawi sebagaimana tersebut dalam Surat At-taubah:24
2. At Tajarrud, (totalitas)
Esensi ruang lingkup tajarrud tercakup dalam uraian berikut:
– Tajarrud fikri atau mulazamatul fikrah. Ikatan pemikiran islam harus melekat total dalam diri ikhwah. Ikhwah adalah penyangga fikrah islamiyyah yang bertanggungjawab menyebarkan dan mewariskan kepada generasi umat.
– Tajarrud ruhi, totalitas menjaga kebersihan hati dari segala keinginan yang kotor dan ambisi yang menyimpang. (ikhlas)
– Al-Insyighal bina tathlubuhud da’wah. Menyibukkan diri dengan segenap tuntutan dakwah
– Wadh’u nafsihi alatan fa’alah lid da’wah. Berupaya memfungsikan diri sebagai bagian yang bermanfaat bagi da’wah.
– Wadh’u nafsihi, usariyah am fardiyyah fi mashlahatid da’wah. Meletakkan diri, baik keluarga atau pribadi untuk kepentingan dakwah.
– Syu’ur bil ma’uliyah ‘alad da’wah. Menumbuhkan rasa tanggungjawab terhadap da’wah. Tidak ada yang mengatakan bahwa satu bidang tertentu bukan urusannya.
– Ishlahu nafsihi wa da’watu ghairihi. Memperbaiki diri dan menyeru orang lain.

B. Tha’atullah wa rasulihi
Taat dalam islam dibangun diatas ilmu dan bashirah, bukan taat buta. Tingkat ketaatan seseorang sesuai dengan tingkat pemahaman dan wawasan. Taat pada Allah dan rasul dapat tercermin dalam amal jama’I, yaitu dengan menumbuhkan sikap husnul mas’uliyah wa  jundiyah. Rincian sikap ini adalah sebagai berikut:
– asy Syu’ur bi annal ‘amala fii ayyi maufiqin ‘ibadah wa qurabah. Merasakan bahwa bagaimanapun pekerjaan dalam satu posisi bernilai ibadah dan pendekatan diri kepada Allah. Dalam posisi apapun, tanggungjawab yang diberikan harus dirasakan sebagai ibadah.
– Dawamul isti’dad. Selalu siap siaga. Rumah amilin adalah ibarat barak-barak da’wah yang selalu siap kapanpun diseru
– Taqdirul mas’ul ramzan lil wahdati wal quwwah. Menghormati mas’ul sebagai symbol persatuan dan kekuatan. Memelihara sikap hormat terhadap mas’ul dan semua rekan dakwah
– I’tibar mauqi’ihitsughratan bin tsugharil Islam. Menganggap posisinya adalah salah satu sari perbatasan Islam secara keseluruhan yang harus dipertahankan.

C. Ta’awun
– Takaful.  Saling menanggung beban kolektif antara qiyadah dan junud. Tak ada potensi yang dianggap kecil dan disepelekan
– tarahum. Setiap ikhwah harus mengetahui dan menyadari tugas dan kewajiban ikhwah yang lain
– talahum, sedarah daging

D. Tanashuh
Agama itu tegak dengan nasehat. Yang paling butuh nasehat adalah yang berada dalam posisi mas’ulin. Untuk proses tanashuh membutuhkan:
1. Al Ikhlash mutabadil. Keikhlasan dari kedua belah pihak.
2. Sirriyah. Nasihat hendaknya disampaikan tidak vulgar didepan orang lain. “Man wa’azha akhahu sirriyah faqad nahahahu wa zanahu wa man wa’azha ‘alaniyah faqad fadhahau wa syanahu”

E. Tadabul hubbi Fillah
1. Itsar. Saling menjalin rasa cinta karena Allah.
2. I’tibarul akh aula min nafsihi. Menganggap ikhwah lebih tinggi kepentingannya dari dirinya.
3. Salamatus shard. Lapang dada

Intima’ Jama’i

“Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap mtmusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia udalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. “

(Q.S Al Hajj 78)

~~~*~~~

Intima’ Jama’i

(Komitmen Bersama, Komitmen Keterikatan dengan Jama’ah)

     Mewujudkan intima jama’i tidak dengan cara permohonan untuk dicatat sebagai anggota, bukan juga terwujud lewat keluar masuk pos-pos jama’ah dan menghadiri berbagai pertemuan saja. Esensi intima jama’i barus mencakup dimensi (kedalaman) yang melanipaui batas-batas formalitas dan bentuk-bentuk lahiriyah. Sehingga komitmen terhadap jama’ah akan semakin memantapkan kedalaman iman, kekuatan intima kepada Islam dan intima struktural (tanzhimi).

I. Ab’adul Intima (dimensi intima jama’i)

      Dimensi pertama dan paling utama adalah dimensi akidah (bu’dun aqidi). Secara akidah seorang ikhwah harus intima terhadap perjalanan dan risalah Islam yang diembannya (intima, mashrii wa risali). Akidahnya harus lurus dan benar-benar sesuai dengan tuntutan Al-Qurar dan Sunah. Keterikatan ini akan melenyapkan ketergantungan pada faktor figuritas terhadaf orang tertentu yang menyebabkan aktivitas dakwah hanya termotivasi oleh faktor akidah, olef intimanya dengan Islam dan oleh ketundukan pada perintah Allah. (Q.S. Al-Fath: 10). Intima kepada jama’ah berarti juga pengerahan seluruh kekuatan diri untuk dakwah, menundukkar kepentingan individual untuk kepenlingan islam, bukan sebaliknya. (Sesungguhnya nilai amal perbuatan itu tergantung dari niat masing-masing).
     Bu’dun fikri (dimensi pemikiran). Pemikiran ikhwah harus terikat dengan fikrah Islam secar; total dan prinsipil (islami mabda wa ushuli). aktivis dakvvah akan menjadi orang yang lain dari yang lain. Dari segi akhlak, pergaulan, pandar.gan dan pemikiran. Mereka harus hidup dalan kerangka nilai Islam total. Menyesuaikain diri dengan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
     Bu ‘dun tanzhimi (dimensi struktural). Dua hal sebelum ini, mungkin saja dimiliki oleh seorang yang tidak intima kepada jamaah. Sering kita mendapati seorang yang idealis, kuat Islamnya tetapi tidak memiliki bu’dun tanzhimi. Dimensi ini mengharuskan seorang ikhwah keluar dari jerat sikap ego dan individualisme, kemudian melebur dalam kepentingan jama’ah. Intimanya tidak tempora!, terus intima derngan apapun korndisi jamai. Seorang raja dari ka’oilah Ghassa mencoba merayu Ka’ab bin Malik ra. Ketika diboikot oleh Rasulullah saw. dan par sahabatnya. Tapi surat rayuan itu justru diremas-remas dan dibakar.
kemudian, dimensi struktural ini akan mencerminkan sifat As-Sam ‘u wal tha ‘ah, timbangannya adalah ketika menerima tugas yang yukhalif mashali fard (berlawanan dengan kepentingan pribadi). Inilah yang disebut husnul indhibath (disiplin yang baik). Taat dalam masalah yang memang sesuai selera dan kehendak itu biasa. Tetaf yang sulit bagaimana mengukuhkan taat dalam kondisi yang berlawanan dengan pendapat dan pandangan pribadi.
     Wujud lain dalam husnul indhihalh adalah bahwa illizam tidak hanya dengan perintah, tapi hanya dengan isyarat sekalipun sudah paham. Lughalu dzaki wal hakim al-isyarah (Bahasa orang pandai cukup derngar, isyarat). Innal labiba hil isyorali yafhamu (Sesungguhnya orang yang pandai itu paham dengan isyarat).

II. Muqtadhayatul intima'(Tuntutan-tuntutan Intima’)

1. Wula aqidi, loyal terhadap akidah. Mewujudkannya melalui:

-Al-isli ‘la, terlepas dari ikatan-ikatan duniawi sebagaimana tersebut dalam surat At-Taubah:. 24

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari)berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendtlangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. “

Sebagian ulama tafsir menjabarkan arti kata bukan hanya bapak dalam hubungan keakraban. tetapi termasuk dalam arti ketua, bos, atasan dan lain sebagainya. Kata juga bukan terbatas anak dalam keluarga, tetapi juga bawahan, anak buah dan sebagainya. Imam Syahid, pada suatu hari raya meninggalkan anaknya, Saiful Islam yang sedang menderita sakit demam untuk pergi menunaikan kevvajiban dakwah. Istrinya sudah meminta beliau untuk menunda kepergiannya. Imam Syahid berlalu sambil melantunkan firman Allah surat At-Taubah ayat 24.

-Tajarrud (totalitas). Tajarrud bukan berarti tafarrugh (kosong dan meninggalkan semua aktivitas, kecuali dakwah saja. Esensi ruang lingkup tajarrud tercakup dalam uraian berikut:

1. Tajaruud fikri atau mulazamatul fikrah. Ikatan pemikiran nilai Islam harus melekat total dalam diri ikhwah. Salah satu penyebab kehancuran umat adalah karena mereka justru mengambil solusi liasil infiltrasi atau barang impor dari sumber non-Islam, imitasi tidak orisinal, bukan asli. Karena palsu itu tidak tahan lama, seperti ginjal atau jantung yang dicangkokkan pada tubuh manusia. Meski tubuh menerima tapi paling hanya dalam jangka waktu yang pendek. Itupun dengan pcrasaan menderita atau penuh siksaan. Untuk kemudian lemah dan mati. Ikhwah adalah penyangga fikrah islamiyah yang bertanggung jawab menyebarkan dan mewariskan kepada generasi umat.

2. Tajarrud ruhi atau totalitas menjaga kebersihan hati dari segala keinginan yang kotor dan ambisi yang menyimpang. Ikhwah harus ikhlas dalam mengemban dan memperjuangkan fikrah Islam.

3. Al-insyighal bima tathlubuhud da’wah. Menyibukkan diri dengan segenap tuntutan dakwah. Dakwah menjadi obsesinya di setiap aktivitas.

4. Wadh ‘u nafsihi alalan fa ‘alah lid da ‘wah. Berupaya memfungsikan diri sebagai bagian yang bermanfaat bagi dakwah. Ikhwah harus berupaya menjadi anggota tang tidak tumpul, tetapi tajam, sehingga kebiasaannya dapat difungsikan untuk kepentingan dakwah. Menerima wazhifah, harus optimal dan tidak boleh menyepelekan.

5. Wadh’u nafsihi, usariyah am fardiyah fi mashlahatid dak’wah. Meletakkan diri, bail keluarga atau pribadi untuk kepentingan dakwah. Bekorban dengan segala sesuatu bail yang murah atau yang mahal. Tadhhiyah yang paling berat untuk kita sementara in adalah mengorbankan waktu istirahat.

6. Syu’ur bil ma’uliyah ‘alad da’wah. Menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadaj dakwah. Masing-masing ikhwah harus merasakan bahwa dirinya adalah mas’ul Sehingga tidak ada yang mengatakan bahwa satu bidang tertentu bukan urusan saya ‘ Sa’id Hawa mengatakan bahwa bila jama’ah menderita kerugian dari satu orang, mak; akibatnya akan menimpa seluruhnya. Karena itu pembagian tugas pun merupakai tanggung javvab bersama.

7. Ishlahu nafsihi wa da’watu ghairihi. Mempcrbaiki diri dan menyeru orang lain. Tingkat dai dapat mempengaruhi orang lain adalah sebagaimana ia dapat menguasai dirinya sendiri

2. Tha ‘atullah wa rasulihi

Ketaatan yang teratur dan disiplin, tidak tergantung keingiiian. Beda taat dalam disiplir Islam dan thaghut. Taat dalam Islam dibangun di atas ilmu dan bashirah, bukan taat buta Tingkat ketaatan seseorang sesuai dengan tingkat pemahaman dan wawasan. Setiap ikhwah harus bcrupaya mcnambah ilmu d:m mcmprrluas wawasan. Rasul saw. berdoa, “Rabbi zidni, ‘ilma’. Taat pada Allah dan Rasul dapat dipclihara dan tercermin dalam amal jama’i. Dengan menumbuhkan sikap husnul jundiyah dan mas ‘u/iyah. Sikap keprajuritan dan tanggung jawab yang haik.

Rincian sikap ini adalah sebagai bcrikut:

1. As-Syu’ur hi annal ‘aiuatu fii uyyi maufiq’m ‘ibadah wa qurabah. Merasakan bahwa bagaimanapun pckcrjaan dalam satu posisi bernilai ibadah dan pendekatan diri kepada Allah. Dalam posisi apapun, tanggung jawab yang diberikan harus dirasakan sebagai ibadah, sehingga bisa dilaksanakan dengan baik. Seorang ikhwah pernah dipenjara puluhan tahun, ia menyadari bahwa kondisinya saat itu adalah dalam rangka dakwah dan taqarrub, maka dalam rentang v/aktu itu ia menghafal Al-Quran, berkebun dan hasil kebun ikhwah di penjara dapat meringankan krisis ekonomi di Mesir saat itu.

2. Dtnvamul isti’dad. Selalu siap siaga. Rumah amilin adalah ibarat barak-barak dakwah. Kapan pun diseru, mereka segera bangkit dari barak dan siap melakukan tugas. Sahabat Hanzhalah mendapat julukan ghasilul malaikah (yang dimandikan malaikat), lantaran saat mobilisasi jihad diumumkan ia masih bersama istri barunya kemudian berangkat jihad dan syahid dalam kondisi junub. Sekarang tubuhnya didapali basah oleh para malaikal.

3. Tacfdind imts ‘ul ramzan lil wahclati wal guwwah. Menghormati mas’ul sebagai simbol persatuan dan kekuatan. Memelihara sikap hormat lerhadap mas’ul dan semua rekan dakwah. Dalam satu pepcrangan, satu orang prajurit kehilangan tempat airnya. Melihat hal tersebut seluruh pasukan sibuk mencarikan tempat air itu di sungai. Musuh kaget menyaksikan persatuan yang demikian kokoh. Temannya kehilangan tempat air saja demikian, apalagi bila temannya terbunuh. Pernah pula ada seorang ikhwah yang ditunjuk sebagai mas’ul merasa ada bawahannya yang lebih pandai dari dirinya. la meminta agar ikhwah yang lebih pandailah yang lebih iayak menjabat sebagai mas’ul, namun ikhwah tersebul menolak. Ketika masalah ini sampai kepada Imam Syahid, beliau mengatakan, “Tetaplah Anda pada posisi mas’u}, kalau Anda berhuat salah nanti orang tersebut yang akan memhenarkan Anda^ Coba kalau dia menjadi mas’ul lalu melakukan kesalahan siapa yang akan membetulkannya?

4. I’libar maugi’ihifsughratan bin tsugharil Islatn. Menganggap posisinya adaiah salah satu sari perbatasan islam secara keseluruhan yang harus dipertaiiankan. Ringkasnya menanamkan rasa tanggung jawab yang dalam terhadap keberadaan diri di mana saja. Jangan sampai Islam mendapat keburukan dari posisinya. Pekerjaannya bagaimanapun harus bermanfaat alau bila ihnml (menyepelekan) berarti kerugian bagi Islam.

3. Ta’awun

Ta’awwi dapat terwujud dengan sikap-sikap:

1. Takaful, saling menanggung beban kolektif antara qiyadah dan junud (prajurit). Tak ada potensi yang dianggap kecil dan disepelekan.

2. Tarahum. Sikap ini juga perlu dilurnbuhkan. Pemisahan sikap seorang muslim dengan muslim yang lain, sepcrti satu tubuh. Biia ada anggota yang sakit, maka seluruh tubuh gelisah dan tak dapat tidur. Setiap ikhwah harus mengetahui dan menyadari tugas dan kewajiban ikhwah lainnya. Jadi tidak ada yang merasa beban tertumpuk pada dirinya saja. Perasaan seperti ini penting, kata Sayyid Quthb, orang yang merasakan kebersamaan dalam shaft’ akan terbebas dari beban-beban batin. Merasakan bahwa alam semesta itu adalah junud, semua alam membantu.

3. Talahum^ sedarah sedaging.

Kctiga unsur sikap ini dilakukan dalam rangka ada’ul wajib (pelaksanaan kewajiban) dan takhfiful a’ba(meringankan beban) sesama ikhwah.

4. Tanashuh.

Agama itu tegak dcngan nasihat. Yang paling butuh nasihat adalah yang berada dalam posisi mas’ulin. Dalani hadits dikatakan, An-nashihah li aimmatil mmlimin wa ‘ammatilrim. Semua ikhwah adalah mas’ul, sebab dampak kesalahan mas’ulin akan monycluruh. Untuk proses tanashuh mcmbutuhkan:

I. Al-Ikhlash mufabadil, kcikhlasan dari dua bclah pihak. Dalam scbuah hadis disebutkan,
“Agama adalah nasihat. Kami bertanya (para sahabat), “Untuk siapa? Beliau bersabda, “Vntuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya dan pemimpin kaum muslimin dan orang-orang awam.” Tunaikan nasihat dengan cara yang paling baik dan terimalah seluruhnya. Khalifah Umar peniah ditegur oleh rakyatnya, “Ya Umar ittagillah”. Umar berkata, “Laa khairaftikum An la taquluha wala khairafiina in lan nasma’ha. (Tidak ada kebaikan bila kalian tidak mengatakan hai ini dan tidak ada kebaikan bila kami tidak mau mendengarnya). Memberi nasihat juga harus dengan hikmah (bijak), maksudnya diatur bahasa penyampaiannya, dipMih waktunya, lihat salurannya atau jalurnya, barangkali lebih tepat disampaikan lewat si A.

2, Sirriyah. Nasihat juga baiknya disampaikan tidak vulgar di depan orang lain. Kata seorang ulania, “man wa’azha akhahu sirriyah faqad nahahahu wa zanalm wa man wa ‘azha ‘ahniyah faqad fadhahahu wa syanahu.” (Siapa yang menasihati saudaranya dengan rahasia, ia sungguh telah menasihatinya dan siapa yang menasihati di depan khalayak berarti ia menghina dan mencacinya). Memberi nasihat juga tidak harus segera. Bisa dengan didiamkan dahulu, mungkin saja orang tersebut akan menyadari kesalahannya sendiri. Seperti orang yang diobati sendiri.

5. Tabadul hubbi fillah_

1. Itsar. Saling menjalin rasa cinta karena Allali. Perwujudannya yang paling tinggi adalah itsar. Menurut Iman Ghazali dikutip oleh Sa’id Hawa bahwa itsar itu ada tiga tingkatan. Yang paling rendah adalah menganggap hak saudara kita sebagaimana hak budak, kafau ada lebrhan itu liaknya. Kedua adalah menganggapnya sederajat dan sama dengan dirinya sendiri. Memenuhi kebutuhan ikhwah sebagaimana memenulu” kebutuhan sendiri. Dan ketiga yang paling tinggi adalah mcnenipatkan kepentingan saudara kita di atas kepentingan sendiri. Seperti yang terjadi dalam perang Tabuk, Tiga sahabat meninggal kehausan karena mementingkan saudaranya. Ini sulit sekali, tapi inilah bentuk persaudaraan yang diiakukan Rasululiah saw. di Madinah. Dalam perang, masing-masing jkhwah ingin menggantikan saudaranya. Ada ikhwah yang telah berkeluarga dijatuhj hukuman mati, ikhvvah yang masih bujang ingin menggantikannya. Alasannya bila ia mati, ia tidak meninggalkan siap-siapa, sedangkan bila ikhwah yang telah berkcluarga mati, ia nanli akan meninggalkan islri dan anak-anak yang perlu dipelihara.

2. I�tibarul akh aula min nafsihi. Menganggap ikhwah leblh tinggi kepentingannya dari dirinya. Ini termasuk dalam tingkat itsaryang paling tinggi”.
Salamatus shard. Menurut Imam Ghazali bahwa tingkalan ini adalah tingkat tenendah bentuk cinta karena Allah. Abdullah bin Uniar bin ash dijamin masuk surga karena mcnjclang tidur tidak pernah menyimpan niasalah dengan kaum mukminin. Wala taj’al fi qulubimi ghiUun iillazdina anuniu. Ghill di sini artinya adalah ganjalmi dalam hati yang belum diungkapkan. Sesama ikhwah harus memeiihara perasaan. lapang dada, tidak mudah tersinggung, mudah niemaafkan dan lolcran. Yang didahuIuHan harus husmc zhann (baik sangka). Mungkin saja bila saya yang berada dalam posisi yarig sama sepertinya, saya juga akan berbuat serupa. Kalau ingin minuni air yang sama sekali tidak mengandung kotoran. maka orang akan mati kchausan. Orang yang Jngin mencari teman tanpa kesalahan sania sekali juga ridak akan mcndapatkan tcman.
Wallahu a ‘lam

Sumber: sabili.blogspot.com

Todays Diary: Sepenggal Cerita Hari Ini…

Ba’da tahmid wa sholawat, semoga apa2 yang tertulis ini bermanfaat,

assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Dear diary sisterhood…

Pagi ini, menerima sms dari seorang ukhtiy tercinta, dulunya sahabat selingkaran, selanjutnya rolling2 boleh jadi membuat kita menjalani ujian keimanan, “apakah istiqamah ataukah keluar dari jama’ah…??” ah… berpisah… Namun alhamdulillah… keep in touch, teman… barakallah…

membaca dan mengingat kembali sms sahabatku itu… hmphhh… menghela nafas sejenak, ada rasa bergejolak, mungkin ini rindu… maka kutulis disini, semoga bisa dibaca juga oleh yang lainnya… “semoga mencintaimu Dzat yang membuatmu mencintaiku, ukhtiy….love u too because of Allah…”

lalu takdir… bukan main, seperti firasat hati tadi pagi, hari ini benar2 dipertemukan Allah dengannya(sahabatku tadi, red) di forum itu, dalam sebuah seminar gede2an yang diadakan oleh FORSALAMM UGM. indahnya cinta….

yah, cukup segitu deh reunian2nya, hehe… kapan2 disambung lagi aja dah…(tp ga janji nie ya… he :p)

nah, sekarang ceritanya nih, kan ada seminar gede buat para kader kampus tuh… kali ini mengangkat tema “Bangkitkan ruh tarbiyah dari UGM madani…” subhanallah… temanya itu lho… keren! apalagi sebagai pembicara dalam acara ini mnghadirkan penulis buku favorit saya, ust. Salim A. Fillah, yang pada kesempatan kali ini mengisi sesi membangkitkan motivasi alias kesadaran(untuk membina), juga ada ust. Abu ridho yang dipanelkan dengan Pak Purwo(yang menggantikan Pak Kamsul Abraha yang berhalangan hadir, keduanya sama2 ADKP di UGM sie) pada sesi selanjutnya(membahas seputar marhalah dakwah, juga dakwah mihwar dauli).

acara yang digelar di GOR Kridosono Yogyakarta ini pun berhasil menyedot massa yang tidak sedikit(tapi tak dapat pula dikatakan sangat banyak, hehe), mulai dari ADK sampai ADS, mulai dari yg S1 sampai S3, mulai dari ADKP UGM sampe ADKP rumah(ummahat2 maksudnyah) yang tak lupa pula memboyong buah hati mereka yang masih kecil2 itu, dan bukan pula hanya warga UGM… namun juga teman2 aktivis dari kampus yang lain…(sempat bertemu temen2 TTs, setahu saya, mereka ga kuliah di UGM, tapi aktivis dakwah juga di kampusnya masing2). hmm… subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaha illallah, wallahuakbar… amal jariyah deh buat panitianya…^_^

well, bagi yang hadir dalam seminar ini, pastinya inget juga sesi bagi2 hadiah dari para MC… yup! penghargaan bagi mereka yang berprestasi, dari yang IPK-nya hampir 4(ukhtiy Beta, PD’06, dg ipk 3,98…ohya, sharing info, ayahanda beliau meninggal dunia beberapa hari lalu… moga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya… dan keluarga yang ditinggal diberikan ketabahan…allahumma aamiin…), juga bagi kader2 yang berhasil memenangkan kompetisi2 ilmiah baik itu skala local sampai interlokal(internasional maksudnya mah…he)

untuk isi materi setiap sesi, haduh… panjang banget deh kalo mau dishare di sini(alesan! padahal ga nyatet, ato pas seminar tidur yak??! hehe, kagak tidur kok… cuma rada krg fokus aja, dan sesekali ngobrol ama yg duduk di samping saiya, >_<). namun akan saya coba ‘tuk menuliskan beberapa hal yg cukup berkesan…

pertama dari ust. gaul Salim A.Fillah. hmm… ustadz Salim menjelaskan 9 point terkait “kenapa harus dakwah tarbiyah?” tapi karena waktu, jadi yang dishare ama ustadz hanya beberapa point saja, yng saya catat juga cuma beberapa, intinya adalah… “Ayo membina!” hehe, ini mah saya ringkas dg bahasa saya sendiri ya, setangkap saya, kira2 begitulah yang ingin diteriakkan oleh ust. Salim. Walah…. ust. Salim emang suka nonjok2, kata seorang kawan(atawa kita sahaja yg merasa ditonjok2 yah…?!). juga tentang kisah murabbiyah dan sebutir jeruk… weleh… laen kali ga bawa gorengan lagi deh.. bawa sebutir jeruk ajah(loh!). he.

selanjutnya sesi kedua oleh ust. Abu Ridho… subhanallah… betapa kata2 beliau menyiratkan kedalaman ilmu yg beliau punya. secara… buku beliau kan udah buanyak juga ya…hehe… jadi seperti kata sayyidina Ali, ikatlah ilmu dengan tulisan, maka saya rasa, dengan terbitnya buku2 karya beliau itu, tentulah banyak kali ilmu yg telah beliau ikat… barakallah…

begitupun dengan Pak Purwo(beneran pak Purwo bukan yah… kebeneran saya kurang denger nama lengkapnya…T_T), beliau juga ketara banget “sensasi” ADKP-nya, taujih yang meluncur dari beliau, terkait dengan kalimat2 ilmiah IPTEK, contohnya, marhalah dakwah yg dianalogikan sbagai sel-sel telur haploid diploid bla bla bla…hehe, saya kurang mudeng(tepatnya kurang denger, karna rada ga fokus tadi)… maaph yah…^_^

hmm, kali ini ga banyak share ilmu sie(wew…emang kemaren2 share ilmu gituh!?)… namun, yah, alhamdulillah, insyaAllah dari agenda hari ini banyak hikmah dan ilmu yg saya peroleh, salah satu pengalaman lain adalah saat menanti bus saat berangkat dan pulang. Ternyata bus jalur 6 sekarang sudah sangat langka, teman… maka saat berangkat ke TKP saya numpang(plus bayar donk) Trans Jogja jalur 3A. dan pulangnya naek bus biasa jalur 4. nungguin bus membutuhkan waktu bermenit2 bahkan puluhan menit. hmm… gapapa, jadi nambah pengalaman, nambah wawasan, dan membuat saya sadar, bahwa kita bisa karna terbiasa(pasalnya pas naek bus kepala saya jadi puyeng dan rada mual, karna udah lama ga sering naek bus gitu deh…gayenye ye, hehe :D ). ada hikmah dan pembelajaran insyaAllah.

yup, segitu aja deh diary hari ini, waktu jua yang memisahkan kita, kapan2 nulis2 lagi dimari… insyaAllah. hehe, like a diary… boleh kan yah?! ^_^

dan terimakasih, teman… untuk segalanya… semoga hari2mu pun indah sepertiku, seperti hari ini….

terakhir, inilah dia! sms sahabatku itu…, ku foward untukmu, kalo bisa mah dibales ke hape or kolom komen yah, teman… hehe… ^_^v barakallahu fiik…

“Apa kabar hatimu? masihkah ia embun? merunduk tawadhu’ di pucuk2 daun…

apa kabar imanmu? masihkah ia karang? berdiri tegar hadapi gelombang ujian…

apa kabar akhlaqmu? masihkah ia bintang? terang benderang terangi kehidupan…

apa kabar saudariku? dimanapun engkau berada semoga Allah senantiasa melindungi dan menjagamu…

love u coz Allah… :)

wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.